Sunday, April 7, 2013

Cerita di Balik Bar Reot.

Kita duduk terdiam di sini, mencoba untuk menyelamatkan apa yang sudah rusak tak terselamatkan. Untuk apa kita bahas kembali? Sudah berakhir sudah. Kamu berusaha memperbaiki apa yang rusak bodoh, mana bisa? Seperti mengembalikan keperawanan wanita suci! Bah! Lupakan saja. Aaaah! Kau ini bicara macam tau saja apa arti dari keperawanan untuk seorang wanita suci! Aku tersentak hebat. Dia melirik ku, terlihat dari ekor matanya. Kenapa? Kau tersinggung? Kau marah? Nyatanya memang begitu bukan? Perlahan air mataku mengalir, aku mulai terisak, rasanya belum pernah ada yang berbicara menohok seperti ini di hadapanku. Sudahlah, Noni, janganlah kau buat aku ini semakin bersalah terhadapmu. Dia membalikan badannya ke arah berlainan menghadap panggung mini di sudut bar reot, berlampu remang ini. Aku tetap pada posisiku menangis sesenggukan. Aku sudah bilang, janganlah kau asal bicara padaku saat emosi begini, jadilah kau kena omongan pedasku, lanjutnya dengan logat khasnya. Aku menghapus air mataku perlahan dengan tisu di depan ku.
Bukan karena perkataanmu aku menangis. Dia mengerutkan dahinya seolah bertanya-tanya kebingungan. Aku menangis, karena apa yang kamu katakan memang benar. Aku tidak pernah tau arti dari keperawanan untuk wanita suci. Aku? Bahkan aku dilahirkan dari rahim Ibu yang tanpa menikah, kecelakaan. Dia menundukan wajahnya, seolah tak ingin mendengar lebih lanjut ceritaku. Ya kecelakaan, ibuku terlalu lalai. Dia bahkan tak bisa membatasi hawa nafsunya dengan pria-pria itu. Ya ada banyak pria memang, entah yang mana ayahku. Aku bahkan tak pernah tahu, kelam. Lalu siapa yang harus aku salahkan untuk ketidakpahaman ku tentang arti keperawanan untuk seorang wanita suci? Ibuku? Tidak, aku tidak menyalahkannya. Ayahku? Ah bahkan aku tak mengenalnya. Tuhan? Sudahlah, Tuhan sudah cukup baik membiarkan aku hidup sampai sekarang ini. Ada jeda hening yang cukup lama setelah aku berhenti bercerita.
"Mamaaaa.." seorang anak gadis berkuncir kuda menggunakan seragam putih biru masuk ke bar menghampiriku, mencium pipiku dan berjabat tangan dengan pria di sampingku. "Hai Om, makin sehat saja sepertinya.." canda si gadis yang langsung mendapat usapan manja di rambutnya oleh seseorang yang dipanggilnya Om. "Mom, I've told you, kalo mau ketemu si Om kan bisa di rumah aja, why you have to go and be in here sih?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling bar, ngeri. "Sudah di jemput Pak Min, yuk! Nggak mau ketinggalan pertunjukan ballet ku kan, Mom?" tanyanya kembali. "Aku tersenyum, membayar tagihan pesananku, kemudian mematikan puntung rokok di tanganku. "Aku pamit Jeff.." kataku menutup pembicaraan kami kali ini. "Bye Om Jeff.." senyum ceria anak itu tidak pernah padam. "Mom, tau nggak sih, Elena, she's told me, kalo liburan ini dia bakal keliling Eropa. How about us? London?" tanyanya, mencoba mengidekan. "You decide!" jawabku santai. "Ah Mommy, love youuuuuu. Aku tadi di sekolah ..... " aku tak mendengar kelanjutan ceritanya, mata ini terlalu lelah untuk terbuka. "Yah, mama tidur. Pak Min, gedein volume radionya ya!" "Baik, Non" -@fadilamh

No comments: