Tuesday, August 29, 2017

Life through half of 2017

Been a while.

I am on silent mode now.

Literally.

My mind is just flying around for what I have been through in the last one year. I might not remember the details, but still can feel those feelings when remembering the moment.

Instagram stories is taking over Snapgram audiences with those 24 hours moment keeping, face filters, fun rewind features, and still with the timeline full of audiences awesome holiday and fancy imageries.

Oh Go-Jekers, who is the truly hero with Go-Food feature and all the Go-Send, Go-Pay, and others Go that taking over usual abang-abang jobs. A one stop solution for the lazy generations like us. Oh, sharing to you an unfinished random thought related to this :

"Kita hidup di era semua sudah serba cepat dan mudah. One click away. Hanya dengan satu klik kita bisa dapat makanan yang kita suka, transportasi yang siap mengantar kemana saja, urusan travel jadi serba bisa, dsb.

Ini membuat kita kemudian merasa segala sesuatu harus serba instan dan harus ada di depan mata. Kita tidak lagi mau menunggu terlalu lama. Bahkan 10 atau 15 menit terasa seperti lama sekali, karena terbiasa dengan 3 menit, ojeknya sampai, satu menit, tiket kereta sudah terpesan, dan dalam waktu setengah jam perut sudah kenyang.

Mungkin sebagian orang dari kita mulai belajar menghargai waktu. Kita menjadi serba sigap, serba tepat waktu, which is great.

Tapi bagaimana dengan sebagian dari kita yang tidak, yang kemudian justru menjadi egois. Kita bertindak seolah konsumen adalah raja di atas segala raja?"

Then what about those new online raising stars whom people look up to? Yes, they are exist. They are all growing in the industries. For whatever they try to sell and convince, good things from my point of view is they are creators. They create something to be consumped by others. They are doing something! If they have more and more followers or subscribers, that's the plus points for them since they keep themselves to be creative as they can.

The past one year also a tough year for some religion and racism issues, no? Well yeah, if I am not saying anything about this, doesn't mean I don't care. I am just not that capable enough for saying anything. A line from Cin(t)a movie, if you can not make any peace there, the least you can do is not to make any war here.

Social media kills. Just be carefull with everything you say and share. Things you think are fine, might not fine for anyone else.

I met more and more people. I got more and more new knowledges and experiences. I have more and more things I want.

Be more adaptive to surroundings and you will be fine. At least, try it!

Expectation kills. But won't kill you anyway. I get to set a new plan for now. This year might not be my year as I expected, but this supposed to be fine, no? The backup plan is listed already. So, I just need to follow each plan one by one passing it.

This one blog post won't capture all things I passed this one year. But, happy enough, afterall I have time to write and think for correcting my life resolutions.

Friday, August 19, 2016

Kaca.

Ini cerita tentang kaca.
Dia yang selalu dipandang, tak jarang sangat menarik hati.
Dia yang memberikan rasa percaya diri, tak jarang pun membuat rasa takut untuk pergi.
Dia yang terlihat kokoh dan ternyata paling mudah retak dibuatnya.

Tahukah kamu siapa yang terlihat seperti kaca?
Mungkin ada di antara kamu atau diantara kalian!
Siapa pun kaca, dia ada, di sana, menatap mu, berharap selalu dianggap, merindu untuk selalu melihat senyum bahagia mu, menunggu sampai batas saatnya dia harus retak.

Tapi walau bagaimana pun, itu tetap kaca.
Ada karena dibuat dan ada karena dibutuhkan.
Jadi apa yang harus dikhawatirkan?

Kamu ada kokoh karena harapan dan keinginan.

Saturday, August 13, 2016

Mari mencari alasan.

Rasanya berbeda.
Kemarin, hari ini, dan mungkin esok.
Rasanya masih saling terus rindu.
Entah rindu pada apa.

Hidup seharusnya semudah itu.
Kamu rindu katakan.
Kamu bosan ungkapkan.
Kamu lelah hentikan.
Kamu senang teruskan.

Hanya saja, hidup memang tidak pernah semudah itu.
Kamu rindu, kamu berpikir pada apa, tepatkah, wajarkah, bisakah.
Kamu bosan, kamu diam, berkaca pada diri sendiri, mungkin ada yang salah dengan isi kepala.
Kamu lelah, kamu masih saja teruskan, dan berpikir apakah benar atau tidak, kemudian melupakan, yasudahlah.
Kamu senang, kamu pun juga bertanya, tepatkah, benarkah, bisakah.

Serba salah.
Bahkan untuk orang yang kamu anggap sudah cukup kamu kenali pun, kamu bisa salah sangka.
Kemudian, kecewa.
Bahkan untuk mereka yang memberikan sokongan penuh dalam segala bentuk doa dan semangat, ada rasa benci tak ingin benar benar yang terbaik.
Bahkan untuk menemukan siapa yang salah dan benar pun kamu tidak bisa semudah itu.

Hanya saja hidup tidak semudah itu.
Memang tidak akan pernah.
Kalau tidak ingin benar-benar jalani.
Setidaknya mari temukan sebuah alasan mengapa harus tetap diteruskan dan dijalani.

Monday, July 25, 2016

Bulan Juli

Sudah mendekati akhir bulan Juli.
Satu tahun lalu di bulan ini aku sedang merasa rindu-rindunya karena harus menjalani sebuah hubungan jarak jauh.
Dua tahun lalu di bulan ini aku sedang merasa senang-senang jatuh cinta sekaligus patah hati.
Tiga tahun lalu di bulan ini aku sedang berada di suatu desa bersama dengan keluarga baru.
Empat tahun lalu di bulan ini aku sedang tersesat di daerah entah berantah di Eropa.
Lima tahun lalu di bulan ini.......entah aku tidak terlalu bisa mengingatnya.
Mungkin sedang berada di suatu tempat, entah bahagia atau tidak, tak bisa ku ingat dengan jelas rinciannya.

Di bulan ini yang aku tau aku sedang menjalani kehidupan ku sebagai seorang pekerja pulang larut malam datang datang menyambut di sebuah rapat.
Di hari ini yang aku tau aku sedang berada di meja kerja duduk manis berhadapan dengan layar yang terkadang membuyarkan pandangan akibat terlalu lama bertatap.
Di hari ini aku merasa lebih baik dari sebelumnya.
Di hari ini pun aku berani menggerakkan jari jemari ku mengetik sebuah cerita tentang bulan Juli.

Bisa jadi tak ada yang semenarik itu di bulan Juli.
Bisa jadi hanya kebetulan saja ingin menulis berkeluh kesah.

Banyak cerita yang dilewati maupun terlewati.
Kadang khilaf kadang memang sengaja.

Kita selalu diberikan sebuah pilihan diantara sebuah pilihan.
Jangan tanya sebenarnya aku ingin bercerita tentang apa.
Aku hanya ingin menyapa dan berkata aku baik-baik saja dan cukup bahagia.
Semoga kamu pun begitu.

Karena dalam setiap doa yang pernah kita saling lontarkan.
Ada kebahagiaan yang mungkin belum bisa ditakdirkan.
Jadi, mari lihat dan saksikan.
Sabar sebentar.

Thursday, May 12, 2016

Sore itu setelah 5 purnama.

Mungkin ini bukan cerita Cinta dan Rangga yang bertemu kembali setelah ratusan purnama.
Mungkin ini bukan juga cerita Radit dan Jani yang menentang banyak pihak tapi ujungnya pisah juga.
Mungkin juga ini tidak seperti cerita yang dibayangkan kebanyakan orang akan kebahagiaan.
Bukan, jelas bukan.

Bertemu lagi setelah 5 purnama rasanya luar biasa. Sore itu kita duduk berhadapan saling tatap, mungkin sedikit saling mengintimidasi, saling mencoba mendapatkan jawaban di balik setiap tatapan. Ini cafĂ© favoritku, lanjutmu. Aku tersenyum. Ada tatapan hampa dibalik senyum mu yang sedang seolah bahagia di depan ku. Masih jelas teringat bagaimana tatapan itu sampai detik ini.

Aku menghela napas panjang. Memilih banyak diam. Karena aku tahu, tangis ku akan tumpah ruah. Entah bagaimana caranya, kamu membuka pembicaraan tentang bagaimana dirimu menjalankan 5 purnama ini tanpa saling bertukar kabar atau mengirim pesan “sedang apa?” Indah…rasanya indah…tahu kamu tidak sebahagia itu tanpa aku. Rasanya ingin tersenyum, tapi yang keluar justru air mata lainnya. Ada yang aku tahu hari itu, bahwa kamu juga tidak baik-baik saja setelah kamu memutuskan untuk berpisah. Kamu berjuang dengan keras, sama……seperti yang aku lakukan.

Bisa kita kembali seperti dulu? Tanyamu setelah sebuah jeda panjang yang hanya berisi tangisan. Detak jantungku mungkin berhenti sepersekian detik saat itu. Tangis ku semakin pecah. Sudah tidak bisa dibendung lagi. Kemudian kamu lanjut bercerita banyak hal tentang dirimu dan rasa kehilanganmu. Apa ada yang bisa dijadikan jaminan kelak? Tanyaku.

Kamu berjanji tentang banyak hal. Ingat betul rasanya, seketika aku kehilangan rasa percaya terhadap mu. Seketika itu juga. Tidak, aku tidak bilang kau berkata bohong atau membual hal yang tidak mungkin terjadi. Tidak. Hanya saja memang tidak ada yang bisa menjamin apa-apa. Bahagia? Mungkin. Selamanya? Bisa jadi. Sama seperti yang lalu, sebuah ketidak pastian. Berujung ditinggalkan. Tidak, aku tidak mau lagi.

Kita berdiskusi panjang sore itu. Mengungkapkan keluh kesah. Menumpahkan semua perasaan. Sore itu kita saling belajar, bagaimana rasanya saling melepaskan dan menegaskan. Aku belajar banyak sore itu. Belajar tentang rasa yang benar lebih baik untuk tidak saling memiliki. Rasa yang baiknya dibiarkan begitu saja. Rasa yang tidak mampu diperjuangkan sebagaimana pun juga. Rasa yang tidak mampu mengalahkan ego kedua belah pihak. Rasa yang kita sama-sama tahu akan salah kalau terus dilanjutkan. Rasa yang sudah kita jaga puluhan purnama ini, akhirnya kandas juga.

Air mata banyak menyita waktu ku untuk bercerita sore itu. Ada banyak sekali yang ingin aku ceritakan, tapi belum tersampaikan. Kamu tahu, sekarang aku selalu mengurutkan uang di dompet ku dengan rapi. Ingat betul rasanya di teriaki, yang rapi dong, aku nggak suka di dompet aku nggak rapi susunan uangnya. Kemudian tetap ku masukan asal-asalan kembalian dari toko itu.

Kamu tahu, aku bercerita cukup banyak hal dengan Bunda tentang kamu, tentang kita. Air mata ku masih mengalir deras saat itu. Pesannya cuma satu, kalau memang sudah diakhiri, jangan marah kalau dia bersama orang lain. Aku tertawa, garing, dilanjut dengan tetesan air mata. Sedih, sedih rasanya.

Hei, aku tidak pernah secengeng ini sebelumnya. Bahkan biasanya cenderung tidak peduli. Kamu anak yang baik, kata Bunda. Cuma kita beda dan tidak ada yang akan berjuang untuk menghapus perbedaan. Jadi, yasudah ya. Mari melanjutkan kehidupan kita masing-masing.

Mungkin aku menemukan orang lain sekarang.
Mungkin juga kamu akan menemukan orang lain yang tepat di lain waktu.
Aku pergi dulu, sampai bertemu di lain waktu dengan cerita yang baru.

Sunday, April 3, 2016

Jawaban.

Lucu rasanya berkata,
"Aku harus pertama bertemu dengannya,
lalu aku akan memberikan jawabannya."

Hanya satu bulan, tambahku.

Hal ini hanya saja cukup mengerikan bagiku.

Apa yang akan terjadi setelah aku bertemu dengannya?
Tambah yakin kah atau semakin meragu kah aku nantinya.
Aku bahkan tak tahu apa yang sedang aku nantikan.
Bertemu dengannya kah atau memberi jawaban kepadamu.

Semua terasa janggal.
Rasanya mengerikan.

Kadang rasanya berlebihan.
Tapi apa yang dirasa siapa yang tahu.

Hidup diantara pilihan yang tak pasti.
Mengerikan.

Tapi, keputusan yang dibuat pun harus dibuat.
Pergi kah aku ke arahmu?
Atau hanya berhenti dalam diam?

Thursday, March 17, 2016

Tepat kah?


Apa kabar kamu di sana?
Iya, kamu yang pernah selalu tidak lupa memberi kabar.
Iya, kamu yang panik bertanya ketika belum ada pesan yang terbalas.
Iya, kamu yang rela berhenti melangkah ketika aku memohon jangan.
Iya, kamu yang pernah begitu memprioritaskan aku di atas segalanya.

Hari ini aku baik-baik saja.
Semakin membaik. Bukan kah memang seharusnya begitu? Kata orang move on itu sulit. Ya tentu saja sulit, belum ada pengganti mu. Tentu saja berat, belum ada yang lebih baik dari kamu.

Sudah lama rasanya tidak mengalami patah hati yang berlarut-larut. Mungkin kamu begitu dalam meninggalkan bekas luka di cerita kita. Oh, mungkin bukan karena kamu, keadaan yang membuat begitu. Aku tahu kamu tidak sungguh-sungguh berkata tidak ingin bersamaku lagi. Aku tahu kamu bisa jadi yang tersedih ketika menutup pembicaraan kita di telepon waktu itu.

Sudah lebih dari 3 bulan, tapi masih saja aku meneteskan air mata ketika teringat kamu. Mungkin nanti ketika kamu membaca ini aku sudah lebih baik, jauh lebih baik. Atau mungkin ketika kamu membaca ini, hati mu sudah untuk gadis dambaan keluargamu. Siapa yang tahu.

Aku ingin berjalan maju terus dan tak pernah melihat ke belakang, ke bagian kita yang terlalu bahagia. Aku ingin begitu. Ada seseorang yang mungkin lebih baik dari kamu, menunggu aku di depan sana, ada. Tapi bagaimana aku benar-benar tahu dia orang yang tepat? Kalau waktu itu bersama kamu pun aku pernah merasa setepat itu.