Monday, August 19, 2013

Sebuah cerita.

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi, firasat ku ingin kan kau tuk cepat pulang cepat kembali, jangan pergi lagi.
Lantunan lagu terdengar sayup di telinga ku, membuatku sekejap menerawang. Sebait lagu untuk, entah siapa. Beberapa hari lagi adalah hari pertunangan ku dengan pria yang aku idam-idamkan. Hitungan hari lagi status ku berubah menjadi tunangan orang. Dalam segenap hati di bilangan hari ini ada yang baru-baru ini saja timbul di hati. Entah apa namanya, mungkin khawatir, atau pun cemas, atau kah orang menyebutnya ragu? Entahlah, belakangan ini rasa takut sering menggerogoti. Belakangan ini entah bagaimana ada rasa mulai tak pasti antara meragukan dia, kami atau diri ku sendiri.
Curahan hati belakangan hari kemarin pun sampai di telinga Lastri, sahabat ku, "Aduh percaya deh sama aku, ya wong kalo mau kawin aja pasti ada resahnya, wedi inilah, wedi itulah. Kamu kan baru mau tunangan aja lho Din. Kamu ikhlas, apa pun sing terjadi, insyaAllah yang terbaik." aku masih diam. Ya, masih entah tak tahu apa yang di ragu.
Drrt... Drrt...
"Halo mas, iya aku tadi abis fitting kebaya ulang, kan yang kemarin masih kurang pas, kamu jadi ke Jakarta? Kamu hati-hati ya mas! Iya, insyaAllah. Wallaikumsalam" suara di ujung telepon berakhir. Masih enggan berpikir banyak, aku memutuskan untuk mengistirahatkan badan, pikiran dan hati, mungkin.

“Aku udah mau deket daerah apartemen mu nih, kamu masih di kantor? I’ll stay in lobby ya An.” Suara diujung telepon menghentakanku.
“Mmm.. mas Andra, will you stay a lil bit longer there? Atau mas Andra kemana dulu gitu, cari titipan mba Dini atau Bunda atau ke rumah temen mas Andra gitu, will you?” tanyaku.
“Loh kamu masih ada meeting or something gitu di kantor ya?”
“Mm.. Nggak sih, eh iya mas iya ada, masih ada yang harus aku selesaiin, gonna be late, is it ok?”
Ok then, I’ll come back again later. Susah deh adik satu-satunya udah mulai sibuk, cinta sama dunianya sih, mas nya udah nggak di cinta lagi.” Rajuk mas Andra di telepon membuat ku ingin segera memeluknya manja kemudian mencubit kedua pipinya.
I love you, mas!” klik.
And another phone call in, Bernard. “Dre, sudah selesai ngantornya? Mau aku jemput sekalian?”
“Hmm.. Nggak usah Ber, aku bawa mobil sendiri aja, kita meet up dimana? Lagian aku nggak bisa lama-lama nih, soalnya ada….”
Your boyfriend ya?” tanyanya memotong bicaraku.
Boyfriend for a lifetime sih lebih tepatnya, mas Andra, Ber”
“Oh ok, kalau yang satu itu aku nggak bisa ganggu gugat. Ok deh, you pick the place ya, text me if you’ve done, see you Dre!”
See you Ber!” Hal yang selalu aku sembunyikan dari mas Andra, Bernard Dharma, tidak ada yang salah sebenarnya dengannya. Hal yang salah adalah hubungan yang kami pernah jalin. Mas Andra tidak pernah setuju dan tidak akan pernah setuju dengan hubungan ku dan Bernard. Bagaimana tidak, aku dan Bernard berbeda keyakinan. Perbedaan mendasar yang akan selalu menjadi dinding tinggi menjulang dan terpanjang yang tak pernah bisa dihancurkan. Ah, berlebihan memang, tapi memang begitu jalan yang harus aku jalani. Sudah lama sebenarnya Bernard tak menghubungi ku, semenjak orang tuanya memutuskan Bernard untuk meneruskan kuliahnya di Belanda, ‘Ya akan lebih baik mendapat pendidikan di sana, dibandingkan di negara sendiri, Bernard juga akan belajar banyak untuk hidup mandiri. Jadi tante juga bisa tenang nanti kalo Bernard udah bisa apa-apa sendiri. Kamu kan jadi ikut senang nanti kan?’ perkataan tante Miranda seketika itu di bandara, terakhir kalinya aku melihat Bernard, sekaligus mengantar kepergiannya dengan status teman. Iya, teman. Aku kembali membenarkan posisi ku menyetir, melihat kaca spion, meyakinkan diri, bahwa tidak akan pernah terjadi lagi perasaan yang sama.

“Halo, iya Bunda, Andra udah di jalan lagi mau ke apartemen An nih, tadi abis beli kue-kue titipan Bunda. Iya Bunda, I’ll be fine, bunda kenapa sih? Kok kayaknya lagi khawatiran banget. Iya Bunda aku atau pun Adreani akan baik-baik aja kok. Bunda jangan lupa di minum vitaminnya ya. Salam buat Ayah, bilang jangan kecapean juga, Dini besok mau mampir ke rumah katanya. Iya Bunda, I love you too!
Klik. “Ah c’mon An where are you?”

“Kamu kapan balik lagi ke Belanda? Ada niat nerusin ngantor di Jakarta aja?” tanyaku.
“Belum tahu sih, bingung nih, Mami maunya aku ya nggak jauh-jauh dari dia di Jakarta aja. Tapi boss di Belanda masih nggak rela aku pergi, maklum kesayangan nih” candanya.
“Ih kesayangan om-om gitu ya?”
“Ih rese!” reflek Bernard memencet hidungku dan mencium keningku lama. Bagaimana tidak reflek menjauh, sudah hampir lima tahun, aku tidak pernah Bernard dan kembali bertemu, Bernard masih memperlakukan ku dengan sikap yang sama. Tuhan, jaga perasaan ku Tuhan.
“Kamu nggak cari bule Belanda aja di sana?” tanyaku mengalihkan pikiran dalam kecanggungan.
“Nggak lah, orang hatinya udah buat orang Indonesia sih.” Jawabnya santai, melirik ku.
“Ha.. Ha.. Ha.. Kamu nih ya! Eh di sana tinggal dimana? Asik nggak?”
“Kamu tuh ya, emang udah dari dulu nggak jago basa-basi apalagi ngalihin pembicaraan. Dre, don’t you know how much I miss you? I miss us, Dre.” Aku terdiam, hening, tak tahu harus menjawab apa, seperti agak sulit bernapas. “Setiap tahun aku selalu pulang Dre, aku pulang buat Mami, aku pulang juga buat kamu.” Kembali aku merasakan jantungku berhenti untuk sepersekian waktu dan aliran darah di kepala ku mulai melambat. “Yah tapi di setiap aku pulang, selalu ada yang nemenin dan ngajagain kamu kan? Gimana bisa aku datang gitu aja. Prinsip aku kan selalu nggak pernah mau masuk ke kehidupan orang yang sudah punya kehidupan lain, just because I don’t want to feel the same.” Bernard kembali memalingkan wajahnya ke arahku, menatap ku kembali dengan kedua matanya yang berwarna cokelat muda, mengenggam tanganku erat dan kembali mencium keningku lama. And I do is just using a fake smile and all on silent mode. “Dreani, will you be mine back? Once more be mine for my whole life time?”
“Ber, kita udah pernah bahas ini kan, aku cuma nggak pernah mau di antara kita mengkhianati prinsip kita masing-masing, aku….”
I’ve been thinking about this for a long time, Dre. Di Belanda aku nggak pernah bisa ngasih hati aku buat siapa-siapa. Di Indonesia, siapa sih yang ngehabisin waktu aku selama masa-masa high school dulu, kalo nggak cuma sama kamu. Do I have a choice? No, Dreani, big zero. Can we just through this and find the way together?”
Drrt… Drrt… Mas Andra is calling..
“Ber, I need to go now. Mas Andra is waiting for me, can we talk about this later? I’ll be in Bandung for this three days, mas Andra mau lamaran.”
Bernard membetulkan posisi duduk awalnya dan menarik lenganku kembali sebelum aku pergi, “Promise me, we will talk about this later, Dre?” aku mendekatkan wajahku ke telinganya. “Promise me, Ber!”

Tidak ada yang persis tahu bagaimana kejadian mengerikan itu terjadi. Sekitar pukul lima dini hari, mobil sedan hitam keluaran tiga tahun lalu mengalami kecelakaan. Sebuah bus menghantam keras bagian depan mobil yang berputar di jalan tol KM 49 menuju Bandung. Di duga ban mobil dari mobil tersebut pecah dan pengemudi tidak bisa mengendalikan mobil karena sedang berada pada kecepatan tinggi. Total korban jiwa adalah dua orang, berasal dari mobil sedan tersebut. Sedangkan 13 orang lainnya luka-luka berasal dari bus di belakangnya yang ikut tertabrak akibat supir yang ternyata mengantuk. Diketahui dari tanda pengenalnya, kedua korban ini adalah saudara kandung bernama Andra Prasetyo dan Adreani Prasetyo. Sekian berita dari kami. Sekilas warta pagi, kembali ke studio.

Menepati janjiku, hari ini aku datang mampir ke rumah mas Andra untuk menemui Bunda di rumah. Iya, menemui Bunda, menemaninya dalam duka dan air mata. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata. Ada rasa gundah yang hari ini aku tahu jawabannya. Rasa khawatir akan keraguan yang ternyata ini artinya. Bukan, bukan ragu pada apa yang ada di depan, tapi ragu apakah aku akan bisa menjalankan kehidupanku yang baru, tanpa mas Andra? Kembali aku memeluk orang tua di depan ku yang sedang menunggu kehadiran dua jasad putra-putrinya. Iya, kedua hartanya yang paling berharga yang kini harus kembali lagi kepada yang telah menitipkannya. Bunda, Bunda adalah wanita yang paling kuat yang pernah aku kenal, Bunda adalah wanita yang terbaik karena telah melahirkan putra untuk mengisi hari-hariku beberapa tahun belakangan, walau tidak untuk beberapa tahun ke depan dan tidak untuk selamanya. Seketika itu pun air mata ku terjatuh, pecah dari bendungnya. “Dini, maafkan Bunda, tidak bisa memberikan putra Bunda kepadamu, karena Bunda sudah harus mengembalikannya.”

Hari ini tepat di hari aku berjanji akan menjawab pertanyaannya dan kembali membahasnya bersama. Bernard Dharma, maafkan aku. Kembali aku mengingkari janji ku. Dulu pernah aku sekali ingkar janji, bagaimana tidak, kau bodoh sekali mau menunggu ku usai sekolah, padahal sudah jelas aku sedang merajuk karena ada adik kelas yang centil mendekatimu. Bernard, maafkan aku. Ingkar janjiku kali ini bukan lagi hanya karena hal sepele waktu itu. Bernard, maafkan aku. Cepat pulang sana! Jangan terlalu lama memandangku begitu. Sudah hampir hujan, cepat pulang! Tidak ada yang tergubris karena tidak ada wujud si penggubris. Bernard tetap di sana, duduk di sana menghadap batu nisan bertuliskan namaku di atasnya. Bernard, maafkan aku.

Part 2 and the end. -@fadilamh

Sunday, August 18, 2013

A journey.

Sebuah perjalanan hidup, mari kita sebut itu perjalanan yang singkat. Perjalanan yang akan dilewati oleh semua insan. Perjalanan yang tak memandang kasta maupun tahta. Ini tentang sebuah perjalanan, memandang kehidupan dari arah berlawanan. Tanpa pernah tahu ujung dari kisahnya. Tanpa pernah mengenali apa yang terjadi, salah kah atau benar kah. Tanpa pernah mengatakan iya aku menemukan apa yang aku cari. Tidak ada yang tahu. Karena manusia, tidak banyak tahu apa yang mereka inginkan, maka tak tahu pun mereka apa yang akan di cari. Maka tidak akan pernah ada yang ditemukan.

Ah, aku terlalu bertele-tele sepertinya. Pagi ini aku terbangun, masih terasa pegalnya punggung dan beberapa bagian tubuhku akibat begadang semalam. Udara kota ini yang membangunkan ku sebenarnya, dingin menusuk. Langit masih gelap, suara ayam baru mulai terdengar dari ayam yang berada paling jauh sepertinya. Garut, aku tinggal di sini untuk beberapa minggu belakangan ini. Tugas mahasiswa kampus, turun desa atau mari kita sebut 'KKN' hingga banyak anak kecil yang datang menghampiri ketika kami tiba dan selalu memanggil kami 'Kaka N! Kaka N! Mau kemana?' Tanpa benar-benar menghafal nama kami satu per satu. Yah, kami pun juga begitu, tak mampu menghafal anak-anak di desa ini satu per satu. Aku lupa, aku selalu menyebut kami, tanpa tahu siapa kami itu. Kalau kata orang sunda, kami ada genep jami, enam orang maksudnya, aku, Cici, Lia, Bodi, Babang, Jo. Well, beberapa nama mereka ada yang seketika berubah panggilan, seperti Cici, dia Chineese, nama aslinya Helen, aku lebih suka memanggilnya Cici, lebih pas. Babang, aduh namanya Khoerul, namun emailnya adalah babang khoe, lebih mudah memanggil dia Babang, kan? Bodi, nama aslinya Sarah, kalau ini memang nama panggilannya Bodi, kurang tahu asal mu asalnya, hanya memanggilnya Bodi. Lia, ini memang nama aslinya, lebih sering memanggilnya Li, sudah cukup. Jo, ayolah nama aslinya sangat Indonesia, Jawa sekali maksudku, Sutarjo.

Sudah sekitar lima minggu kami tinggal di sini, di rumah Ibu Tati. Rumah yang kami tempati tergolong cukup nyaman. Desanya pun tak jauh dari jalan raya dan pusat keramaian. Dibandingkan dengan desa mahasiswa lainnya yang cukup menanjak ke arah Gunung Cikuray dan rumah tinggal yang sebagian memang apa adanya. Faktanya, ada baik ada buruknya, agak susah untuk kami menjangkau semua kampung yang ada di desa ini, total ada delapan kampung dan yang intens kami ikuti perkembangannya hanya sekitar setengahnya. Oleh karena itu, ada strategi yang kami lakukan, masuk melalui aparat-aparat desa langsung untuk menjalankan program. Dalam beberapa minggu ini sudah ada empat kegiatan dari enam rencana awal yang sudah kami laksanakan, diantaranya Sosialisasi Pembuatan Tepung Ubi kepada Ibu PKK, mengajar Pendidikan Lingkungan Hidup anak-anak SD, Sosialisasi Unit Pengolahan Zakat dan Koperasi serta beberapa kegiatan pendukung seperti Pemetaan Sawah, Pekarangan Terpadu dan Penyuluhan Organisme Pengganggu Tanaman yang masih sedang berjalan dan akan dilaksanakan segera.

Ada cerita tentang kami ketika melaksanakan pemetaan sawah. Seperti biasa, bangun di pagi hari, kami menuju daerah persawahan, mencari petani yang sedang bekerja atau sekedar bersantai, kemudian mulai menggunakan jurus wawancara dalam bahasa sunda kami yang.......seadanya. Dari enam orang, hanya Babang yang lancar berbahasa Sunda., sisanya senyum ketika yang diajak berbicara senyum, serius ketika ekspresinya serius, menjawab 'nggak lancar bahasa Sunda' ketika diajak atau sekedar ditanya dalam bahasa Sunda. 'Puten pak, kami ti Bogor, mau nanya-nanya' 'Iya neng' 'Bapak punten namina saha pak?' merasa tidak ada yang salah dengan bahasa Sunda campur, Bapak justru menghampiri, bertolak pinggang kemudian seperti merajuk dalam bahasa Sunda yang bahkan kami tak tahu apa artinya, hanya paham bahwa beliau....marah. Sialnya tidak ada Babang saat itu karena suatu alasan, well ya, all the things that we can do are just smile and say, 'Maaf pak, kami ke sini, mau belajar, kami mahasiswa pak' kemudian bapak berubah ekspresi dan berbalik tersenyum meminta maaf. Well, ada yang salah dengan cara penyampaian kami, mungkin. Pelajarannya adalah mari berbicara Indonesia saja :)))

Berdekatan dengan banyak orang di sini, masyarakat yang berbeda pola pikir, kebiasaan, dan cara, membuat ku belajar banyak dan banyak belajar. Belajar bahwa ada bagian lain dari negara ku sendiri, bagian sebelah lain yang beberapa punya kearifan lokal sendiri dan sebagian masih butuh bantuan untuk sebuah perubahan. Masih ada sepuluh hari lagi terhitung dari sekarang untuk kami tinggal dan menyelesaikan apa yang harus kami selesaikan di sini. Entah apa yang akan terjadi dalam sepuluh hari nanti, harapan kami adalah rasa rindu akan kota dan desa ini selalu akan ada kelak nanti kami pergi meninggalkan ini.

Satu hal yang lebih bukan dari hanya sekedar menghabiskan waktu di sini adalah aku mencoba untuk menghabiskan waktu, mengalihkan pikiran, meninggalkan sebentar, menjauhkan perasaan dari hal-hal sepele tentang hati dan perasaan. Terimakasih Tuhan untuk sebuah kesempatan ini. Terimakasih.

Di suatu pagi, putaran lagu playlist buatanmu, antah berantah, seperti kamu. -@fadilamh
Desa Sukarame, Garut, H - 10 hari kepulangan.

Thursday, August 15, 2013

Simpang.

Aku pernah berada di persimpangan, melangkah atau mundur selangkah. Aku pernah berada di persimpangan, jalan datar kemudian menanjak atau berkelok kemudian menurun. Aku pernah berada di persimpangan yang bahkan tak pernah aku tahu apa namanya. Aku pernah berada di persimpangan, enggan memilih untuk meneruskan tapi pun tak bisa berhenti di tengah jalan. Aku pernah berada di persimpangan, kamu pernah?
Catatan ponsel semalam tadi. -@fadilamh

Thursday, July 18, 2013

Sebuah cerita.

Ada yang hilang. Memang, ada yang hilang. Bukankah memang seharusnya begitu? Kembali aku menatap sorot mataku sendiri melalui pantulan kaca spion mobil ku. Ah kemacetan Ibu kota yang tak pernah ada habisnya. Seharusnya hari ini aku sudah menginjakkan kaki ku lebih pagi dari biasanya di tempat baru yang bisa di bilang calon kantor ku. Yap, masih dalam tahap magang selama tiga bulan ke depan, masa percobaan. Lucu sekali calon kantor ku ini, ada masa percobaan, makanya aku sebut masih calon kantor. Aku tersenyum kembali melihat rentetan mobil di depan dan belakangku. "Cring.." ada pesan masuk, tidak kenal nomornya, tapi pernah lihat, batinku.

Inbox: +6285287560xxx
Hi Dreani..

Kembali ku picingkan mata ku sembari mengingat nomor yang tertera di ponsel pintarku. "Tiiin.. Tiiiin.." klakson mobil di belakang ku cukup menghentak ku untuk kembali menatap jalan di depan. Memutar balik mobil ku di bilangan bundaran HI, berjalan lurus dan membelokannya ke dalam gedung yang ku sebut calon kantor ku. Aku menatap jam tangan ku, pukul 7.45, belum terlambat, pikir ku. Belum terlambat untuk berbelok ke toilet terlebih dahulu untuk membenarkan diri dan make up ku pagi ini. "Andreani, are you ready for this?" ucap ku melemparkan tanya kepada cermin di hadapan ku, kemudian menjawab dengan senyum.
...

"Halo Bun, I'm fine. Just kinda tired in the first day. But still spirit up for this! Bunda apa kabar?" tanya ku melalui telpon setiba di apartemen, tempat tinggal sementara ku di bilangan Jakarta Selatan. Hari ini benar-benar melelahkan, ada banyak hal kecil mendetail yang harus aku pelajari dan kerjakan.
"Iya Bunda baik kok, semua di sini baik. Dua minggu lagi mas mu ada lamaran, bisa pulang kan nak?"
"Ya ampun aku hampir aja lupa, siap, tapi aku baru bisa pulang H-1 Bun, nggak apa-apa? I'll try to be on time kok"
"Iya, kamu segera kabari mas mu ya, jangan bikin dia khawatir, sepertinya mas mu butuh teman cerita, maklum sudah akan mengganti status. Nanti kalo mas mu sudah buat orang lain khawatirnya, kamu toh nyariin kan?"
"Iya Bunda, I will, promise me!" aku tersenyum, mengingat bagaimana mas Andra begitu khawatir dengan keputusanku untuk mengambil pekerjaan di Jakarta, meninggalkan Bandung, kota kelahiran ku, begitu saja. Mas Andra, kakak kandung ku satu-satunya, sekaligus saudara kembar ku. Bagaimana tidak khawatir, dari kecil kami selalu berada di kota yang sama. Berpindah dari Jogjakarta ke kota Bandung pun tetap tak terpisahkan. Sampai akhirnya aku memiliki kesempatan melanjutkan kuliah ku juga di Bandung di satu Universitas yang sama tetap dengannya. Tapi cita-cita ku untuk bekerja di tempat calon kantor ku ini juga hal yang sangat aku inginkan, bergabung menjadi bagian dari tim internasional yang mengabdi untuk negara dan membantu yang lain.
...

"Halo selamat pagi mas Andraaaaa!" ucap ku dari ujung telpon.
"Halo, iya iya, pagi-pagi udah berisik deh" terdengar suara bangun tidur dari ujung lainnya.
"Aduh yang udah mau ganti status" goda ku.
"Kamu nih ya, kamu kapan pulang ke Bandung, nggak mau lihat aku pakein cincin di jari manis mba Dini?"
"Duh yang takut soulmate sehatinya nggak dateng, iya mas aku dateng kok tapi baru dateng H-1, nggak apa-apa ya?"
"Kok H-1 An? Sibuk banget ya? Aku jemput deh H-3 ya aku ke Jakarta"
"Eh.. Jangan mas!! Calon yang mau tunangan baik-baik aja di rumah, duduk yang manis, aku ke Bandung kok pasti, pinky promise!" jelas ku manja. Mas Andra, sahabat terbaik, pelengkap keluarga dan pengganti pacar. Kembali teringat pada beberapa kejadian di masa-masa labil ku dengan kehadiran orang-orang yang ingin menggantikan posisi mas Andra sebagai 'pacar'. 'Mana ada sih yang bisa ngengantiin mas Andra di hati aku? Mana ada sih yang bisa lebih romantis dari mas Andra? Mana ada sih yang bisa super galak dari mas Andra? Nggak ada mas, nggak ada.' Begitu ucap ku ketika pertama kalinya aku memutuskan untuk mempunyai pacar setelah sekian banyak penolakan yang aku lakukan, siapa lagi kalau bukan akibat hasutan mas Andra. Dan ya pertama kalinya aku memutuskan hal tersebut, terbuka pertama kalinya lah potensi terbesar untuk ku patah hati. Ah iya patah hati, tadinya aku ingin bercerita tentang hal ini.
"Iya yaudah, kamu ke sini sama Risan?" Ah!
"Mas, can we just not to talk about him again?" pinta ku.
"Loh kamu udahan sama Risan, An?"
"Aduh mas, kok tumben sih nggak peka"
"Kamu sibuk, jarang ketemu, mana tahu aku kamu gimana keadaannya sekarang. Aku ke Jakarta besok pagi, meet me up like very soon after your office hour, ok dear?" pernyataan dan pertanyaan seperti ini yang tidak pernah bisa aku bantah atau pun menolak.
"Well, no rejection are right in here, right?" Mas Andra, tak tahu bagaimana nanti ketika kamu benar-benar akan mengalihkan rasa khawatir mu untuk wanita lain, bukan aku, lagi.
....

"Cring..."
Inbox: +6285287560xxx
Dre, kamu apa kabar?

Nomor yang sama seperti tempo hari. Ah iya, aku belum menggubris pesan sapa waktu itu.
Sent: Me
Maaf, saya kenal kamu?

Inbox: +6285287560xxx
Bernard, Dre. Have you delete my number, huh?

Sent: Me
Still using this number? I thought you're not. Baru balik ke Indo? Dari kapan?

Inbox: +6285287560xxx
Ini minta nomor ini di aktifin lagi. Yap, about three months already here. Kamu dimana sekarang?

Sent: Me
Udah tiga bulan di sini, baru kasih tahu sekarang? Ck. Di Jakarta Ber.

Inbox: +6285287560xxx
Iya sorry, kemarin sibuk urus kepindahan. Di Jakarta? Can we meet for very soon? How about tonight?

Sent: Me
Well, I'm free for tonight, see you then!

Inbox: +6285287560xxx
Great, see you Dreani, I miss you.

Aku tersenyum menatap layar ponsel ku dan tersentak ingat ketika melihat update seseorang di akun sosialnya, 'On my way to Jakarta, weather be nice' mas Andra!! Oow I'm in trouble, yes I am, seperti memulai kembali masuk ke dalam dunia lama, sewaktu itu.
...
Subuh dini hari, part 1-@fadilamh

Friday, July 12, 2013

Obrolan

Kamu tidak perlu tahu kenapa dia meninggalkanmu. Tidak perlu lah! Satu hal yang pasti, kalau cinta itu memang ada, dia pasti memilih untuk bertahan, bukan pergi tanpa alasan. Setidaknya sekarang kamu tahu kalau dia tidak cinta atau mungkin tidak secinta seperti kelihatannya, ya kan?
Obrolan dengan seorang sahabat, seorang pembuat logika, terimakasih. -@fadilamh

Thursday, July 11, 2013

Last two July.

Bonn, Germany, July 2012, wheat field.
Garut, Indonesia, July 2013, rice field.
I just can say thank God :) -@fadilamh

Ditinggalkan.

'Ada apa?' Itu balasan yang tertera di ponsel layar putih kecil, ponsel tipe lama. Semalaman aku berangan, berpikir, bertanya, kemudian mencoba menyimpulkan. Mengingat kembali setiap titiknya, kembali memainkan memori, hanya takut ada yang terlewat, tak teringat, hati-hati ku susun puingnya, memori. Tak ada yang salah, tak ada yang terlewat, tak ada yang tertinggal. Karena sekarang yang ada dan tercipta adalah aku yang tertinggal, tak tahu salah dan tak mengerti apa yang terlewat. Rasanya sesak, sulit bernapas. Entah akibat dari kepulan asap dari benda disisipan jemariku ataukah memang begini rasanya sulit bernapas, entah karena apa. Aku memejamkan mata, mencoba untuk mengosongkan pikiran, memberi jeda pada memori dan membiarkan banyak hal untuk tahu dan menyadari satu hal, aku sekarang berada di titik ini. Di titik yang pernah aku buat untuk seseorang rasakan. Titik yang disebut ditinggalkan. Ah percayalah, aku tak selemah dan sesakit yang aku tuliskan. Percayalah, aku hanya sedang melewatinya sesaat. Percayalah, aku mungkin tidak benar-benar mengalaminya. Percayalah, aku selalu begitu. Tapi aku bukan peramal. Aku bukan madam Sahara. Aku bukan cenayang. Aku tidak pernah tahu apa yang kali ini sama seperti biasanya? Ataukah yang kali ini bisa aku sebut kamu, Karma? :)
-@fadilamh