Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Thursday, May 12, 2016

Sore itu setelah 5 purnama.

Mungkin ini bukan cerita Cinta dan Rangga yang bertemu kembali setelah ratusan purnama.
Mungkin ini bukan juga cerita Radit dan Jani yang menentang banyak pihak tapi ujungnya pisah juga.
Mungkin juga ini tidak seperti cerita yang dibayangkan kebanyakan orang akan kebahagiaan.
Bukan, jelas bukan.

Bertemu lagi setelah 5 purnama rasanya luar biasa. Sore itu kita duduk berhadapan saling tatap, mungkin sedikit saling mengintimidasi, saling mencoba mendapatkan jawaban di balik setiap tatapan. Ini café favoritku, lanjutmu. Aku tersenyum. Ada tatapan hampa dibalik senyum mu yang sedang seolah bahagia di depan ku. Masih jelas teringat bagaimana tatapan itu sampai detik ini.

Aku menghela napas panjang. Memilih banyak diam. Karena aku tahu, tangis ku akan tumpah ruah. Entah bagaimana caranya, kamu membuka pembicaraan tentang bagaimana dirimu menjalankan 5 purnama ini tanpa saling bertukar kabar atau mengirim pesan “sedang apa?” Indah…rasanya indah…tahu kamu tidak sebahagia itu tanpa aku. Rasanya ingin tersenyum, tapi yang keluar justru air mata lainnya. Ada yang aku tahu hari itu, bahwa kamu juga tidak baik-baik saja setelah kamu memutuskan untuk berpisah. Kamu berjuang dengan keras, sama……seperti yang aku lakukan.

Bisa kita kembali seperti dulu? Tanyamu setelah sebuah jeda panjang yang hanya berisi tangisan. Detak jantungku mungkin berhenti sepersekian detik saat itu. Tangis ku semakin pecah. Sudah tidak bisa dibendung lagi. Kemudian kamu lanjut bercerita banyak hal tentang dirimu dan rasa kehilanganmu. Apa ada yang bisa dijadikan jaminan kelak? Tanyaku.

Kamu berjanji tentang banyak hal. Ingat betul rasanya, seketika aku kehilangan rasa percaya terhadap mu. Seketika itu juga. Tidak, aku tidak bilang kau berkata bohong atau membual hal yang tidak mungkin terjadi. Tidak. Hanya saja memang tidak ada yang bisa menjamin apa-apa. Bahagia? Mungkin. Selamanya? Bisa jadi. Sama seperti yang lalu, sebuah ketidak pastian. Berujung ditinggalkan. Tidak, aku tidak mau lagi.

Kita berdiskusi panjang sore itu. Mengungkapkan keluh kesah. Menumpahkan semua perasaan. Sore itu kita saling belajar, bagaimana rasanya saling melepaskan dan menegaskan. Aku belajar banyak sore itu. Belajar tentang rasa yang benar lebih baik untuk tidak saling memiliki. Rasa yang baiknya dibiarkan begitu saja. Rasa yang tidak mampu diperjuangkan sebagaimana pun juga. Rasa yang tidak mampu mengalahkan ego kedua belah pihak. Rasa yang kita sama-sama tahu akan salah kalau terus dilanjutkan. Rasa yang sudah kita jaga puluhan purnama ini, akhirnya kandas juga.

Air mata banyak menyita waktu ku untuk bercerita sore itu. Ada banyak sekali yang ingin aku ceritakan, tapi belum tersampaikan. Kamu tahu, sekarang aku selalu mengurutkan uang di dompet ku dengan rapi. Ingat betul rasanya di teriaki, yang rapi dong, aku nggak suka di dompet aku nggak rapi susunan uangnya. Kemudian tetap ku masukan asal-asalan kembalian dari toko itu.

Kamu tahu, aku bercerita cukup banyak hal dengan Bunda tentang kamu, tentang kita. Air mata ku masih mengalir deras saat itu. Pesannya cuma satu, kalau memang sudah diakhiri, jangan marah kalau dia bersama orang lain. Aku tertawa, garing, dilanjut dengan tetesan air mata. Sedih, sedih rasanya.

Hei, aku tidak pernah secengeng ini sebelumnya. Bahkan biasanya cenderung tidak peduli. Kamu anak yang baik, kata Bunda. Cuma kita beda dan tidak ada yang akan berjuang untuk menghapus perbedaan. Jadi, yasudah ya. Mari melanjutkan kehidupan kita masing-masing.

Mungkin aku menemukan orang lain sekarang.
Mungkin juga kamu akan menemukan orang lain yang tepat di lain waktu.
Aku pergi dulu, sampai bertemu di lain waktu dengan cerita yang baru.

Wednesday, March 2, 2016

Mahasapta.

Mahasapta, a little office family of mine.

"If you think you can't stay for yourself, at least try to find a reason for staying a little longer.
And when it's your time to really give up, then remember why at some moments you still can stay."
-Somewhere, Mars.-

Tuesday, March 1, 2016

Bali.

Klapa New Kuta Beach, Uluwatu.
This place could be one of your choices for kind of office event, wedding,
party, or even only for lunch/dinner. The view is awesome!

Hard Rock Cafe Bali.
For those who love rock music wouldn't miss to visit here.
For me, rock is fine, too much rock hmm......will re-think. LOL.

Water sport @ Pandawa Beach.
We paid 350K IDR/ person for this parasailing.
Well, why not. Enjoy the view from up!

Chat Cafe.
Our 24 hours life saver from this hungry people.

Motel Mexicola.
Nice design, feels like Mexican.
Hola!

La Laguna, Seminyak.
Just don't miss the sunset from here ya.
Too awesome to be true!

3 days stayed here will remind me to go back again to the same place.

Wednesday, February 10, 2016

Dieng, Wonosobo.

Bukit Ratapan Angin, 6th Feb 2016
My 3rd time for being here and the beauty never fail me.

Click for the legend.

Bukit Sikunir, 7th Feb 2016.
A story behind the hiking was unforgettable yet crazy much.

"I just can't imagine how my college life would be without this girls.
Thank you for time, laugh, cry, and crazy things.
I love you to the moon, 9Nero!"

Sunday, February 7, 2016

Be Brave, Be Free!


I am within myself imagining how if I were sitting here down with you for waiting the sunrise after hiked 30 minutes up in the very dark morning. It could be awesome!

But then, I am also realizing, if so, I would never feel how it is for being hurt again after too many happy things that I ever had, if so, I could forget how it is for being grateful to make somebody happy because of me, if so, I might forget how it is for becoming the strong me.

Might be so.

So at the day, I saw the sun rised in the middle of the rain, I promised to myself for not forgetting the things I have to pass for becoming a very better me.

Well, I know, this might be looked like a declaration. But, no it is not. This is just another of my thoughts, how I see the world and how I face it.

Be brave, people! Be free.

My notes, February 7th 2016.

Sunday, January 17, 2016

Jepara.

I never thought Jepara prefecture could be this awesome. The view, beach, cafe, hotel, and people there all are nice. Let me guess, maybe this depends on the people you go with ya lol. This was my first time to visit Jepara. Just a random plan for 'where will we go next'? Then Jepara is one of choices. It took 2 hours from Semarang by travel car for 50K IDR one way. Suggestion: do not visit there when it's weekend or holiday (if possible), because the beach will be full with people. Well, there are no beach games or even coconut, which bad for me because I can do nothing. But, when we walked along the beach side, we found many nice resto. We got chance to visit 2 resto there, Ocean View Resto with nice view direct to swimming pool and the beach and also Jepara Beach Resto with Germany touch for food and design. For price itself, quite almost same with Jakarta, I guess because the owner itself is not indonesian, but don't worry it's European portion. Having dinner there has been getting me back to my one of Europe's resto I ever visited in 2012. One night was enough for me. See you again, Jepara! If I got chance to go, I will repeat all of this trips for sure.

Ocean View Resto

Jepara Beach Resto

Kartini Beach View

Monday, January 11, 2016

Semarang - Solo - Jogja.

Hi, like what I promise before, I would like to share some of our short trips in 2015. I know, this kinda late, but never mind. Enjoy!

So, the first short trip that I want to share is my 5 days in 3 different cities in Java. My first stop was Semarang, since our main purpose was to find new boarding house for Ba who will continue his master and doctoral study there that time. Let me introduce you my Ba, well ya, he is the one that you might know by reading my blog recently. He got country scholarship for 4 years to finish his master and doctoral program straight forward. He is the one who has so many ego for fighting his future in education side. He is my one and only stupid lovely buddy who sometimes do stupidity without thinking too much. He was my love. Yes, was. Well, sorry, this time post does not make for him anyway. So continue, we decided to take a night train from Senen station to Semarang Poncol. We arrived around 6 a.m. and we visited our friend's boarding house and also called my cousin who live in Semarang to come. Lucky we are for having friends and family there. After a day, we finally found the click one of the boarding house. First place that I do really visit that time was Sam Poo Kong temple. It is the famous temple in Semarang. I ever visited that place in 2013 with my other fellas.

Sam Poo Kong (Chinese三保洞pinyinSānbǎo Dòng), also known as Gedung Batu Temple, is the oldest Chinese temple inSemarangCentral Java, Indonesia. Originally established by the Chinese Muslim explorer Zheng He (also known as Sanbao), it is now shared by Indonesians of multiple religious denominations, including Muslims and Buddhists, and ethnicities, including Chineseand Javanese.[1][2]
-Wikipedia 

Can't you let yourself holding my hand longer?

Our afternoon great picture.
This picture was taken in our 1st anniversary.

The next destination was Leker Paimo. Best Leker for me hihi. I insisted my cousin, friend, and him (of course) to visit this place. The place was not that great, it's only a cart beside a small canal behind a high school. But, the variant of Leker itself that made me always want to come back to Semarang. Bad thing is, I don't have any picture of this Leker :( but you can check it in Google or Tripadvisor, they have picture and location for it. To end this day, we decided to meet our friends for dinner. New place, old friends, new great time could be always searched by a traveler, right?

@ House of Moo, Tembalang.
Nice place to catch up and full this hungry mummies.

The next day, we took morning train to Solo, called Kalijaga train from Semarang to Solo for only 10K IDR. My destination is only one in Solo 'Taman Sriwedari', while his destination was anywhere where I want. After 1 hour, we arrived in Solo, I remember that time, I told him that the place was not that far, so we can just walk from station to the park. We used Waze to show us the way (thanks Waze). After more than 2 km, I guess, I felt like super tired, hungry, and have no idea where we are, or in other word, we lost. I can remember his face, I knew he was the only one who more tired while I was the one who asked and yelled him to do this and that and listen to me. At the end, what happened is he was the one who found the right way to Taman Sriwedari. It's 12 p.m. and the park was still closed. I was so sad that time. Let's try next time! I said (now I know there will be no more next time).

His happy face when finally we got our lunch.
Sorry for making you that tired to walk that time.

Yeay, Spicy fried rice, Ceker soup, spicy Belut, and something Asem beverage.

1..2..3..click. Ih Ba, kok tetep jelek sih?
Picture after 12345x poses.

I don't know why, I do really want to visit Taman Sriwedari. This could be because Maliq & D'Essentials song 'Setapak Sriwedari' lol. This was also my second time to visit Solo. The first time was in 2011, my first time to go far from home with friends (well, for organization matters). Taman Sriwedari checked. Next stop was around alun-alun and came late for visiting the Keraton, since it closed at 2 p.m. I was so disappointed that time and showed my bad face to him. I remember how he laugh out loud while teasing and asked me to smile. Next time we will come back here ya! He said. Well. No. More. Next. Time.

At the same day, we took our afternoon train to Jogja. This was my I don't know, 6 or 7 times to Jogja and well ya never getting bored. Our main purpose is to visit one of our friends, Pika. So happy, after quite long time did not see her, finally I can meet her and listen all the stories and what she has been through this time in Yogyakarta. We visited De Mata Trick Eye 3D Museum to take a lot of pictures of course.

Let's fly by this air balloon!

How sweet we are! Sorry Pika hihi.

We also visited House of Raminten, a must visit resto in Jogja. The next day we decided to rent a motorcycle and visited The Floating Restaurant in Klaten. It took almost two hour to reach the place, while our motorcycle wheel was leaked. I don't know because there were too many rocks at the street, our motorcycle which too small, or our size that too much if calculated, LOL. 

One of floating resto in Klaten.

Thank you Semarang, Solo, Yogyakarta for another great memories that I could have in my life. See you again someday!

Can't you see how happy I am that time? :)))
@ in front of Ambarukmo Plaza with Wedang Ronde.
August, 2015.


Monday, August 24, 2015

Short update of my life.

Let’s start this post with what people said.
Some people said, life’s just begun after your high school graduation.
Some people said, high school will never end.
Some people said, around 20’s is your age to think and make a decision.
Some people said, don’t wait until 27th to make a decision.
Some people said, work life is awesome if you work on something u passion at.
Some people said, you will be missing campus life when u start to work.
Some people said, try to find the real figure as your Imam.
Some people said, now it’s not time to try and go find another one.
Some people said, those are true, those are wrong.

Then I said, here what I’ve been through.
I finished my campus life 2 months after I returned to 22nd, while my plan was graduated on early 21st or last 20th if possible. I worked hard for that, I texted my Prof early than others, I tried to meet him sooner than it should be, I even took the research data super earlier until I forgot to tell him I would like to use my project data for my research. Here where the problem begun. I was too excited, I was busy with my own life’s plan, I was too focus to reach my dreams, I was too obsessed. That’s what happened. Well, until finally I tried to accept the zero possibility of my life’s plan and change it!
Sometimes, I think my early 20 are full of drama. I have to finish my undergraduate thesis for almost 1.5 years, while some of my high school and college friends have already got job, moved to another city or even visited another part of the world for a trip or even continue their study. Maybe some of you might think my life is not that complex la~ since I got a job directly after I finished my study, no time for letting my mom ask again and again ‘how’s this vacancy, why don’t u go there, or when u can get a job?’ I do really thanked for this. Yes some of you might think I am that ‘lucky’, don’t u?

Here’s the facts:
Before I got this job, FYI, this was not my first time I got interview for a job, this was not my prime time to have a FGD or pshycotest or something related with work requirement. I have been through some trial and error of what they said job seeker, I did this too when you guys were busy to meet your Prof or preparing your seminar slide presentation or even in the morning of your graduation day. I have been tried earlier than you, only that’s the difference. I have been through earlier about this while you guys have been through earlier the steps to graduate.
I almost cry when everytime I saw another crossed on the graduation calendar. I always think again and again and make my self sure, I am not that stupid then I can not graduate on time. That was only because it was not the right time to graduate yet. Yes, it is. My mom said, this all about the time, you dream it, you wish it, then you pray for it. After that? You go for it, you work for it and you let God do the rest.

Another facts:
A long the way I finished my study for 1.5 years, I got chances to visit 5 countries, Malaysia on February 2014, Thailand on July and November 2014, Lao PDR on August 2014, Netherland and Italy on last June 2015. What it did for? Some of it for paper presentations, summer school study, and convergence of Climate Change. Hmm, how do I say, I do really proud for this all and I also do really don’t mind if anyone asked ‘why I have to graduate in 5 years?’ since I have this all experiences and I do really thanked for this.

Additional fact:
Thank God, I have special one that accompanied me through all of this until now. Of course besides family, bestfriends and also best advisors ever. I call him Ba. Just don’t ask me why I call him so. He is my most favourite man (don’t count my dad, he is my superman). He helps me a lot, he always try to be there by my side as long as he can, that’s why I always try to do so. I follow his last track of his campus life to end, vice versa. I help him on laboratory which I don’t really understand at all and sometimes choose to be grumpy kid and ask him to go home early than it should be. He helps me a lot with my statistics data or even only with the PPT animations while sometimes he looks bad when work with my data since he also doesn’t understand about it. We are a good team. We do. I usually cry in front of him when my expectation to meet my Prof was different. He usually come to me when he has a super bad day or worry about something. We are a good team. We do. His family are very kind to me, so do my family to him, while those things can not categorize as ‘that’ kind for ‘go for further step’ things. No, it is not. We know with what happen in the future, well not ‘that’ really know, but at least can predict what will be happened sooner or later.
We are now separate by the distance. He lives in Semarang to continue his study for becoming a master and doctor in 4 years ahead, while I am here go back again to Jakarta for working and starting a new chapter of life. Now, it is time for us to learn another new things seperately, struggle, survive, and face every little things by ourselves. I am sure that he will find another new family called friends soon. But well, not that warm as our family in Bogor, so do I hihi. Bogor has became an unforgettable place for me, since I found many things, I got wonderful things, I learnt small until big things, and that’s all because I through almost my 5 years there.

Moment of my point of view.
Some people said, life’s just begun after your high school graduation. Yes it is, I got many new things to see, try and experience at.
Some people said, high school will never end. If you mean, my high school friends, yes it is never end.
Some people said, around 20’s is your age to think and make a decision. I made a huge decision to keep move on with all of my probs and face it.
Some people said, don’t wait until 27th to make a decision. Hmm, I will try to make sure of my self, since I have another dream to reach, which is to get scholarship and continue my study.
Some people said, work life is awesome if you work on something u passion at. Thank God, so far I work with people have a same goal with me.
Some people said, you will be missing campus life when u start to work. Missing it already.
Some people said, try to find the real figure as your Imam. InsyaAllah, step by step I will try.
Some people said, now it’s not time to try and go find another one. I am on my own feet to try to not to.
Some people said, those are true, those are wrong. I said I try my best for everything.

Regards,

Fadila

Monday, February 3, 2014

Banyak Belajar, Belajar Banyak.

Prinsip banyak belajar, belajar banyak akan terus berlaku mulai dari kamu membuka mata di pagi hari dan tak sengaja terlelap di tengah malam. Karena lelah akibat semua yang kamu kerjakan di hari ini, berimbas kelak di kemudian hari. Dan karena apa-apa yang belum kamu dapat sekarang, bisa jadi memang sudah dipersiapkan untuk nanti. Itu yang aku percaya, entahlah dengan kamu.

Akhir-akhir ini entah masuk kategori lelah hati, fisik atau pikiran. Bukan tentang pria mana lagi bukan. Kali ini tentang mimpi yang berawal dari keinginan dan harapan kuat untuk kemudian berusaha. Setelah Februari lalu menginjakkan sepatu boot di tengah tebalnya salju Niigata, justru terpilih menjadi Control Council, dan dikejutkan dengan pengumuman lolos Program Kreatifitas Mahasiswa di bidang Masyarakat dengan Little Farmer. Februari kali ini aku kembali berkesempatan, bukan salju kali ini, tapi Twin Tower dan River Tour Night di Universiti Putra Malaysia mengenalkan Little Farmer kepada khalayak kembali menjadi free traveler woohoo! Februari kali ini aku kembali di forum yang sama untuk melepaskan jabatan Control Council dan Februari kali ini kembali dikejutkan dengan pengumuman lolos Program Kreatifitas Mahasiswa di bidang Penelitian, ini judulnya 'Analisis Pendapatan Petani Perkebunan Karet Inti Rakyat (PIR) Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah', sejalan nanti dengan penelitian sarjanaku.

Sama seperti Tuhan menciptakan makhluknya yang beragam dengan kekurangan dan kelebihan. Tuhan juga memberikan kebahagiaan setelah cobaan atau cobaan setelah kebahagiaan atau mengimbangi keduanya bersamaan. Kembali Tuhan memperkenalkan aku pada orang-orang yang hebat sekaligus butuh usaha untuk mendekatinya seperti dosen pembimbing skripsi yang mungkin beberapa teman-teman tahu 'how's the way he works' atau orang-orang baru yang penuh semangat dan punya visi mulia seperti teman-teman dari SahabatRUMA dan para ibu yang kami kenal pada saat pelaksanaan proyek 'Gerakan Darmaga-Ciampea Bijak Mengelola Uang' bersama RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda) akhir Oktober lalu. Ah iya, serta mengenal mereka-mereka yang entah datang kembali dari masa lampau.

Well, tentang dospem skripsi, ini sudah tahun ketiga mengenalnya, beliau juga adalah dospem akademik ku. First statement from my friends when they know my advisor is like this 'Selamat ya Fadil, selamat aja deh!' 'Ih ya ampun Fadil yang sabar ya!' dan beberapa kalimat penyemangat sekaligus iba-iba ria di dalamnya. Pada dasarnya, ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan kala pemilihan dospem, pertama karena merasa sudah cukup tahu dan mencari tahu bagaimana cara kerja beliau, saya memberanikan untuk kembali menjadikannya dospem, kedua karena meyakini bahwa beliau tidak pernah main-main dalam membimbing dan mau semua anaknya paham, saya memberanikan diri menulis namanya di urutan pertama pemillihan nama dospem dan ketiga karena beliau Guru Besar dan sibuk serta sulit ditemui, saya well kembali berpikir ulang. Tapi 2 dari 3 alasan dasar sudah memenuhi persyaratan, kembali yakinlah saya untuk mengumpulkan formulir tanpa mendengar bisik-bisik dari orang (padahal emang nggak ngomongin gue. Sip!)

Ya kembali jaranglah bertemulah dengan Mr. BMS ini, kembali sulitlah mengambil perhatian beliau dan kembali terhambatlah proses turun lapang. Tapi satu yang saya coba yakini adalah Tuhan selalu adil, Dia tidak pernah lupa melirik hamba-Nya yang berusaha sampai akhir, jadi mari tetap berusaha! :)

Selanjutnya tentang SahabatRuma, untuk yang satu ini aku sudah cukup dengan baik mengenalnya, Jajang, Ka Ata, Andri, beberapa kali bekerja dalam kepengurusan yang sama, sering kali hedon dalam setiap kesempatan yang sama setelahnya. Namun yang berbeda adalah mengenal para ibu-ibu rumah tangganya. Agak canggung memang masuk ke lingkungan baru sebagai orang yang dianggap pintar mau memberikan dan berbagi ilmu baru (sebelumnya kami telah melakukan pelatihan dengan pihak RUMA). Tapi berbekal ilmu dan pengalaman sosialisasi pada saat Kuliah Kerja Profesi pada Juli lalu, SahabatRuma berhasil mencapai lebih dari target untuk program ini. Programnya tidak sulit tidak, Bijak Mengelola Uang, bijak bisa dimulai dengan apa saja, salah satunya mencatat pengeluaran dan pemasukan sehari-hari, menerapkannya yang butuh ekstra tenaga dan usaha. Kami mencoba menfasilitasikan para ibu dengan buku catatan khusus, sehingga mereka dapat dengan leluasa mencatat. Program ini dikemas sedemikian rupa agar menarik, mulai dari adanya doorprize sampai ngariung bersama.

Dan ya program ini disambut baik oleh masyarakat bahkan RT sebelah pun ada yang ingin didatangi oleh kami untuk program ini. Sayangnya belum tahu lagi kapan ada program setelah ini, tapi pasti ada, jadi siapa lagi yang mau ikut di program ini untuk membantu memperbaikin pola keuangan masyarakat? :)

Terakhir tentang mereka-mereka yang aku kenal dari masa lampau dan datang kembali. Selamat datang! Kalaupun tidak waktu itu, tidak sekarang, mungkin di kehidupan berikutnya.

Maaf Tuhan, hanya bisa mengucapkan terima kasih dan syukur untuk semua kelengkapan dalam hidup. Tapi bukan kah Kau tidak pernah menuntut, aku salut pada-Mu, kembali terima kasih, Tuhan! Alhamdulillah untuk semua nikmat-Mu.-@fadilamh

SahabatRuma 'Gerakan Darmaga-Ciampea Bijak Mengelola Uang'

Teman kerja setahun ini! :)

Surprisingly surprised!

Monday, December 30, 2013

Dear Gerardi.

Malam ini aku tidak bisa terlelap lagi. Ini malam kesekian semenjak kehadiranmu digantikan dengan sosok lain di kehidupanku. Andro namanya, dia bukan orang Jawa sepertimu. Dia orang Sumatera campuran Sunda. Jauh berbeda dengan banyak sifatmu, hampir berlawanan. Aku sampai sulit menyesuaikan diri karena terbiasa dengan sifatmu. Andro adalah pilihan Ayah Ibu ku. Mereka yang menjodohkan kami. Kamu jangan cemburu! Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Seperti katamu tempo hari, tidak ada yang lebih tahu tentang apa yang terbaik selain orang tua yang membesarkanmu. Baiklah untuk kali ini kamu boleh mematahkan pernyataanku bahwa yang terbaik hanya diri sendiri yang tahu. Kamu ingat kita menghabiskan hampir setengah hari untuk berdebat tentang hal ini dan tiga hari untuk ku tidak tersenyum tulus untuk mu karena kesal. Baiklah ini memang tentang prinsip hidup, mungkin ini juga yang membuat kita tidak akan pernah bersatu.

Iya aku dan kamu, kita berbeda prinsip. Lalu apa yang kita bisa pertahankan selama lebih dari lima tahun ini? Baiklah Ayah dan Ibu benar. Itu ego, ego kita masing-masing untuk saling menaruh kepercayaan di pundak satu sama lain untuk percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dan kenyataannya, ada banyak hal yang memang tidak mungkin seperti aku dan kamu bersama selamanya, itu tidak mungkin. Hanya ada sementara, bukan selamanya. Artinya sementara kita telah habis. Perjuangan kita untuk sebuah penyatuan sudah harus terhenti. Berhenti di beberapa pekan lalu. Setelah cukup lama kita sama-sama menaruh ego dan bukan kepercayaan di pundak masing-masing. Sementara kita, lima tahun kita, sudah harus tutup cerita. Kita sama-sama sudah tidak bisa berada pada akhir cerita yang sama. Mungkin memang begitu sebuah takdir dirancang untuk aku bukan bersamamu dan kamu bukan bersamaku.

Gerardi, terima kasih untuk lima tahun yang sudah kita rancang bersama di hari pertama kita saling menatap sebagai pemimpi. Mimpi itu indah, karena rasanya cukup lama aku tidak terbangun, lima tahun Gerardi. Sampaikan salamku pada Mama, katakan maaf aku tidak bisa berada disampingmu di hari bahagiamu nanti. Katakan maaf pada Papa, aku tidak bisa memeluk erat dirinya sebagai pemberi cucu pertama untuk keluarga mu. Berikan pelukan terhangat untuk Luna, katakan betapa aku ingin bersamanya di hari wisudanya, tapi aku tidak akan bisa. Gerardi, jangan lupa katakan pada Biba, untuk tidak mengikuti dan loncat kepangkuan orang yang kamu sayangi kelak, karena itu mengagetkan.

Gerardi, 11 hari lagi adalah hari yang Ayah dan Ibuku nantikan. Tapi 11 hari rasanya seperti esok. Malam ini aku masih terjaga, takut rasanya berada di pelaminan dengan orang yang baru saja aku kenal. Tapi kamu percaya bahwa Ayah Ibu tahu yang terbaik untuk anaknya, bukan? Aku berani taruhan, ketika kamu membaca ini, kamu akan menggigit bibir karena sudah mendebatku ketika itu. Gerardi, kamu hebat! Dan akan selalu begitu. Titip rinduku untuk mimpi kita. Boleh aku berdoa esok aku kembali di mimpi kita, bukan mimpi aku dan orang lain atau pun kamu dan orang lain. Boleh aku terus bermimpi?

Ini hanya cerita. Bukankah semua orang punya ceritanya?-@fadilamh

Thursday, December 19, 2013

Memory.

Some fragrances are surprisingly reminding you about the past. Completely past, whether its good and bad. If giving a ride could be have any differences of definition, then you should be not ask me to come with you. If going to movie could be made any others hurt, then you should be not watch in the same studio with me. And... If having you could be the hardest part of any others life, then I should be not here next to you. But... You true. Riding, watching and having you are not that bad. Because still... Smiling to you is as easy as see you pick me up. Laughing to you is as simple as sit beside you. And having you around is unpredictable thing.

Saturday, November 23, 2013

Yogyakarta bertemu kembali.

Terkadang meninggalkan sesuatu tak selesai menjadi penyesalan, tapi kembali untuk mengulang dan memperbaiki bisa jadi bukan jalan.
Kalau ketika aku berjalan ke tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, aku masih mengingatmu, bagaimana aku bisa melupakanmu?
Lalu, kalau ketika aku terpejam jauh dari hal-hal tentangmu, aku masih tetap mengingatmu, apakah aku benar-benar bisa melupakanmu?

Hari ini kunjungan entah ke sekian ku ke Yogyakarta, semacam fieldtrip mata kuliah. Rasanya aku ingin menolak dan hanya menghabiskan akhir pekan ku di kamar dengan buku bacaan baru atau sekedar dvd drama korea marathon, sudah lebih dari cukup. Tapi sayangnya kunjungan ini pun tak bisa aku hindari. Ah sialnya sial kamu serasa selalu ada mengikuti kemana pun aku berada.
Study tour Bali-Jogja lima tahun lalu. Kita saling menggenggam tangan di pinggir pantai Kuta, saling bertukar sapa dengan video cam dan tentunya bertukar tawa. Kemudian jalan Malioboro saat itu terasa padat, ada dua hal yang kita berdua janjikan bersama. Pertama, membeli gelang dengan ukiran nama kita, aku dengan namamu, kamu dengan namaku. Ukuran gelang yang kita beli jelas berbeda, rasanya tukang gelang harus memotong sekitar 4 atau 5 besi untuk gelang ukuran ku. Kedua, membeli baju Dagadu yang sama. Kita keliling Mall Malioboro karena mau membeli baju Dagadu yang asli. Dapat! Baju berwarna hitam bertuliskan United Ngayogyakarta dan ukuran yang juga sama jauh berbedanya, aku S, kamu XL. Senang sekali hari itu, sungguh, aku senang sekali.
Hari ini, aku memang tidak ke Bali. Tapi kembali ke Jogja untuk mengunjungi tempat-tempat yang sama kita kunjungi, sungguh benar-benar mengingatkan aku padamu. Candi Prambanan dan sekitarnya, mengingatkan aku untuk terus tak melepaskan genggamanmu karena saat itu aku hampir tersesat. Jalan-jalan di Malioboro mengingatkan aku bagaimana sulitnya kita menemukan tukang gelang yang sesuai dengan seleramu. Hari ini aku memakai baju hitam dengan tulisan United Ngayogyakarta. Bagaimana mungkin aku tidak mengingatmu? Alun-alun Kidul dengan dua pohon beringin, mengingatkan ku dengan becak yang kau sewa dari tukangnya dan coba kau kayuh untuk membawa ku keliling di sekitar alun-alun.
Hari ini aku ingat untuk tidak melepaskan genggamanku di Candi Prambanan dan sekitarnya. Aku ingat betul, aku tetap menggenggam tangannya, tapi bukan lagi tanganmu. Jalan-jalan di Malioboro tetap sama, hanya kali itu aku tidak berjalan bersamamu mencari tukang gelang yang pas, aku hanya berjalan-jalan untuk menemukan tempat makan, karena temanku sudah terlalu lapar. Temanku membelikan aku gelang setelah kami makan. Dia tahu akan susah mencari ukuranku, jadi dia memutuskan untuk membeli gelang rajutan tali, lebih mudah ditemukan katanya. Setelah itu, dia mengajakku untuk membeli baju Dagadu di Mall Malioboro, tapi aku bilang aku sudah punya cukup banyak baju dari Jogja. Dia memaksa, akhirnya kami membeli baju putih dengan tulisan Orang Jogja, bedanya kali ini ukuran ku S dan dia L, badannya lebih kurus darimu. Hari ini pula di alun-alun Kidul, aku tidak diantar keliling dengan becak yang kamu kayuh, hanya duduk manis dengan lengannya di pundak ku.
Berbeda dengan lima tahun lalu, hari ini aku berada dalam perjalanan pulang menuju Bogor, bukan Jakarta. Apa pun bisa terjadi. Seperti ketika hati ini mantap untuk pergi dan tak kembali kepada mu. Seperti ketika aku lebih mantap mengangguk dan menjawab iya untuk lelaki ku kini. Apa pun bisa terjadi. Bahkan di saat aku merasa sudah mantap, aku masih mengingatmu. Ah sudahlah. Seseorang tertidur lelap duduk di sampingku sekarang, sepertinya dia sangat lelah. Perjalanan dengan bus ini masih harus menempuh sekitar 5 jam lagi. Sebaiknya aku juga tertidur, sebelum seseorang di sampingku terbangun dan bertanya apa yang sedang ku tulis.
Aku membaca ulang apa yang aku tulis dan tersenyum. Kau tahu beberapa hal indah untuk dikenang, tapi bukan untuk kembali diulang.

Tak lama kemudian kamu kembali menghubungiku dan menghilang, bukan? Tenang tentang pria yang berada di posisimu hanya fiktif belaka. Karena tetap kam tidak akan tergantikan.-@fadilamh

Friday, November 15, 2013

Kereta pulang.

6:37:49 PM. Begitu waktu digital yang tertera di jam casio tipe lama yang cukup trend pada zamannya. Ah menunggu perubahan pada angka pertama di jam ku artinya harus menunggu perubahan angka 37 kembali ke 37 lagi dengan awal yang berubah dari 6 menjadi 7 dan detik yang entah angka berapa yang tepat. Satu jam, hanya satu jam. Tapi ada banyak perubahan yang mungkin terjadi dalam satu jam. Menunggu satu jam untuk tiba di stasiun selanjutnya dan kembali menghadapi cerita yang entahlah bisa dikatakan berulang pun terkadang berubah. Duduk di dalam kereta penghubung dalam kota di jam pulang kantor memang bukan pilihan yang paling tepat. Tapi sekalipun tidak tepat, aku harus kembali ke tempat aku membuka mata di pagi hari dan pergi untuk kembali mengulangi rutinitasku. Bisa dikatakan lelah memang. Pekerjaan seorang pelayan memang tidak pernah semudah yang orang bayangkan. Baik, namaku Ananda, aku perempuan berumur 19 tahun yang tidak mampu meneruskan sekolah dan berusaha mencari kerja untuk sekedar membayar listrik rumah kontrakan yang dihuni 4 orang, aku, ibu dan 2 orang adik ku. Ayahku? Ah sudahlah. 
Mari tidak membahas tentangnya. Aku punya mimpi, iya sama seperti kebanyakan orang, mimpi yang memulai segalanya. Dan usaha yang membawaku meraihnya. Aku seorang pelayan, iya pelayan, tadinya, beberapa tahun yang lalu. Sebentar lagi umurku menyentuh angka 26 dan sekarang aku sudah bukan lagi seorang pelayan yang diberikan perintah, pelayan yang dimintai tolong atau pun pelayan yang beberapa kali terkena lecehan hidung belang. Sekarang aku tidak lagi duduk di kereta dengan kelelahan, melainkan kegembiraan, karena rasanya sudah cukup lama aku tidak mendengar riuh gemuruh orang di stasiun, anak kecil menangis di ujung gerbong kereta atau pun beberapa orang yang tertinggal kereta dengan muka melas dan kesal. Iya sudah sekian lama semenjak aku berhasil meraih mimpi ku, sekarang aku seorang owner, bukan lagi waiter. Usaha ku untuk tetap terjaga saat malam membaca dan berlatih soal paket C dan terus kuliah mengambil gelar sarjana membuahkan hasil. Aku owner dari sebuah restoran dibilangan sentral Jakarta. Bukan karena aku bisa membelinya, bukan. Melainkan hadiah dari Tuhan yaitu keahlianku menarik orang untuk berinvestasi yang sangat aku syukuri hingga detik ini. Dua puluh enam tahun bukan umur yang muda lagi. Ibu ku pergi ke rumah Tuhan tahun lalu, ketika aku baru saja menyelesaikan sarjana ku. Ayah ku? Ah ayolah tidak usah kembali membahas dia. Kedua adik ku sekarang sedang berada pada jenjang sekolah menengah keduanya karena jarak umur mereka yang memang saling berdekatan. Aku? Umur ku 26 tahun, aku bisa menghasilkan uang ku, membiayai kedua adik ku, juga para pekerja ku, membahagiakan pelanggan restoran ku dengan sajian makanan yang memanjakan lidah, ah apalagi yang aku kurang untuk syukuri. Puji Tuhan, tak ada yang mengalahkan kuasa-Mu.

7:07:49 PM. Kembali ku lihat layar jam ku. Ya ya ya baiklah, iya memang ada yang kurang. Usiaku 26 tahun dan aku belum menikah. Baik lah aku mengaku kalah, memang ya memang belum lengkap rasanya. Bukan karena tidak mau menikah atau sekedar mencoba sebuah hubungan. Bukan jugaa karena tidak ada yang tertarik denganku. Siapa yang tidak tertarik, wanita yang baiklah aku memang tidak mengakui diri ku cantik, tapi beberapa orang berkata begitu, aku justru menganggap terkadang plin plan, tapi orang-orang melihat aku sosok yang di idamkan. Mungkin memang ada yang salah dengan penilaian mereka atau hanya sekedar penghibur makanya mereka berkata begitu, mungkin. Ada banyak yang mendekatiku, iya ada, mulai dari pelanggan, teman lama ku, beberapa rekan kerja ku dan bahkan satu dari beberapa investor ku mengaku jatuh cinta pada ku. Tapi apa bisa aku hanya memberikan hati ku cuma-cuma? Untuk siapa, orang yang bahkan tidak benar-benar mengenalku dengan baik. Oke baiklah aku memang tidak membuka diri. Tapi toh aku punya alasan yang logis. Well, cukup logis. Cerita cinta yang selalu aku dengar dari orang-orang disekitar ku hanya berujung sedih, pengkhianatan, duka, atau sejenisnya, termasuk cerita cinta dari ibu ku. Ibu terlalu tegar, dia memang tidak menceritakan bagaimana Ayah hanya pergi begitu saja untuk wanita lain, karena yang ibu ceritakan hanya bagian indahnya, mereka bertemu, jatuh cinta, jadi lah aku dan kedua adik ku. Di luar daripada itu, apa bisa hanya dikatakan berhenti jatuh cinta? Mana bisa dibilang cinta kalau ada tahapan dimana kau harus berhenti dan memulai cinta dengan orang lain. Tidak logis! Bodoh!

7:27:49 PM. 10 menit lagi aku tiba di stasiun tujuan ku. Masih tak ada yang merubah persepsi ku tentang cinta, jatuh cinta, atau pun jodoh. Entahlah masih banyak yang ingin aku bahagiakan dibandingkan hanya diriku sendiri. Hening. Aku lelah ingin terlelap saja.

7:35:49 PM. Baiklah mari lupakan, bersiap turun, kembali pada sebuah rumah dengan senyum dan tawa di dalamnya. Masih berputar lagu-lagu di ipod mini ku. Kali ini Don't Change - Musiq Soulchild yang menyambut kepulangan ku di stasiun Cikini.

7:37:15 PM. Pintu kereta terbuka. Masih sempat aku melemparkan pandanganku ke sekitar di dalam kereta.

7:37:49 PM. Pintu kereta kembali tertutup dan mulai bergerak meninggalkan stasiun Cikini ke arah selanjutnya.

7:38:10 PM. Aku masih terpaku di depan pintu kereta dan memandang arah yang sama, kembali meyakin kan diri bahwa benar apa yang aku lihat. Di ujung gerbong sana, seorang pembersih gerbong kereta berseragam sama seperti pembersih yang lainnya. Seseorang yang mirip betul dengan..... Ayahku.

Cerita yang kucoba tulis duduk manis dalam diam di kereta tujuan Bogor-Jakarta. -@fadilamh

Monday, August 19, 2013

Sebuah cerita.

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi, firasat ku ingin kan kau tuk cepat pulang cepat kembali, jangan pergi lagi.
Lantunan lagu terdengar sayup di telinga ku, membuatku sekejap menerawang. Sebait lagu untuk, entah siapa. Beberapa hari lagi adalah hari pertunangan ku dengan pria yang aku idam-idamkan. Hitungan hari lagi status ku berubah menjadi tunangan orang. Dalam segenap hati di bilangan hari ini ada yang baru-baru ini saja timbul di hati. Entah apa namanya, mungkin khawatir, atau pun cemas, atau kah orang menyebutnya ragu? Entahlah, belakangan ini rasa takut sering menggerogoti. Belakangan ini entah bagaimana ada rasa mulai tak pasti antara meragukan dia, kami atau diri ku sendiri.
Curahan hati belakangan hari kemarin pun sampai di telinga Lastri, sahabat ku, "Aduh percaya deh sama aku, ya wong kalo mau kawin aja pasti ada resahnya, wedi inilah, wedi itulah. Kamu kan baru mau tunangan aja lho Din. Kamu ikhlas, apa pun sing terjadi, insyaAllah yang terbaik." aku masih diam. Ya, masih entah tak tahu apa yang di ragu.
Drrt... Drrt...
"Halo mas, iya aku tadi abis fitting kebaya ulang, kan yang kemarin masih kurang pas, kamu jadi ke Jakarta? Kamu hati-hati ya mas! Iya, insyaAllah. Wallaikumsalam" suara di ujung telepon berakhir. Masih enggan berpikir banyak, aku memutuskan untuk mengistirahatkan badan, pikiran dan hati, mungkin.

“Aku udah mau deket daerah apartemen mu nih, kamu masih di kantor? I’ll stay in lobby ya An.” Suara diujung telepon menghentakanku.
“Mmm.. mas Andra, will you stay a lil bit longer there? Atau mas Andra kemana dulu gitu, cari titipan mba Dini atau Bunda atau ke rumah temen mas Andra gitu, will you?” tanyaku.
“Loh kamu masih ada meeting or something gitu di kantor ya?”
“Mm.. Nggak sih, eh iya mas iya ada, masih ada yang harus aku selesaiin, gonna be late, is it ok?”
Ok then, I’ll come back again later. Susah deh adik satu-satunya udah mulai sibuk, cinta sama dunianya sih, mas nya udah nggak di cinta lagi.” Rajuk mas Andra di telepon membuat ku ingin segera memeluknya manja kemudian mencubit kedua pipinya.
I love you, mas!” klik.
And another phone call in, Bernard. “Dre, sudah selesai ngantornya? Mau aku jemput sekalian?”
“Hmm.. Nggak usah Ber, aku bawa mobil sendiri aja, kita meet up dimana? Lagian aku nggak bisa lama-lama nih, soalnya ada….”
Your boyfriend ya?” tanyanya memotong bicaraku.
Boyfriend for a lifetime sih lebih tepatnya, mas Andra, Ber”
“Oh ok, kalau yang satu itu aku nggak bisa ganggu gugat. Ok deh, you pick the place ya, text me if you’ve done, see you Dre!”
See you Ber!” Hal yang selalu aku sembunyikan dari mas Andra, Bernard Dharma, tidak ada yang salah sebenarnya dengannya. Hal yang salah adalah hubungan yang kami pernah jalin. Mas Andra tidak pernah setuju dan tidak akan pernah setuju dengan hubungan ku dan Bernard. Bagaimana tidak, aku dan Bernard berbeda keyakinan. Perbedaan mendasar yang akan selalu menjadi dinding tinggi menjulang dan terpanjang yang tak pernah bisa dihancurkan. Ah, berlebihan memang, tapi memang begitu jalan yang harus aku jalani. Sudah lama sebenarnya Bernard tak menghubungi ku, semenjak orang tuanya memutuskan Bernard untuk meneruskan kuliahnya di Belanda, ‘Ya akan lebih baik mendapat pendidikan di sana, dibandingkan di negara sendiri, Bernard juga akan belajar banyak untuk hidup mandiri. Jadi tante juga bisa tenang nanti kalo Bernard udah bisa apa-apa sendiri. Kamu kan jadi ikut senang nanti kan?’ perkataan tante Miranda seketika itu di bandara, terakhir kalinya aku melihat Bernard, sekaligus mengantar kepergiannya dengan status teman. Iya, teman. Aku kembali membenarkan posisi ku menyetir, melihat kaca spion, meyakinkan diri, bahwa tidak akan pernah terjadi lagi perasaan yang sama.

“Halo, iya Bunda, Andra udah di jalan lagi mau ke apartemen An nih, tadi abis beli kue-kue titipan Bunda. Iya Bunda, I’ll be fine, bunda kenapa sih? Kok kayaknya lagi khawatiran banget. Iya Bunda aku atau pun Adreani akan baik-baik aja kok. Bunda jangan lupa di minum vitaminnya ya. Salam buat Ayah, bilang jangan kecapean juga, Dini besok mau mampir ke rumah katanya. Iya Bunda, I love you too!
Klik. “Ah c’mon An where are you?”

“Kamu kapan balik lagi ke Belanda? Ada niat nerusin ngantor di Jakarta aja?” tanyaku.
“Belum tahu sih, bingung nih, Mami maunya aku ya nggak jauh-jauh dari dia di Jakarta aja. Tapi boss di Belanda masih nggak rela aku pergi, maklum kesayangan nih” candanya.
“Ih kesayangan om-om gitu ya?”
“Ih rese!” reflek Bernard memencet hidungku dan mencium keningku lama. Bagaimana tidak reflek menjauh, sudah hampir lima tahun, aku tidak pernah Bernard dan kembali bertemu, Bernard masih memperlakukan ku dengan sikap yang sama. Tuhan, jaga perasaan ku Tuhan.
“Kamu nggak cari bule Belanda aja di sana?” tanyaku mengalihkan pikiran dalam kecanggungan.
“Nggak lah, orang hatinya udah buat orang Indonesia sih.” Jawabnya santai, melirik ku.
“Ha.. Ha.. Ha.. Kamu nih ya! Eh di sana tinggal dimana? Asik nggak?”
“Kamu tuh ya, emang udah dari dulu nggak jago basa-basi apalagi ngalihin pembicaraan. Dre, don’t you know how much I miss you? I miss us, Dre.” Aku terdiam, hening, tak tahu harus menjawab apa, seperti agak sulit bernapas. “Setiap tahun aku selalu pulang Dre, aku pulang buat Mami, aku pulang juga buat kamu.” Kembali aku merasakan jantungku berhenti untuk sepersekian waktu dan aliran darah di kepala ku mulai melambat. “Yah tapi di setiap aku pulang, selalu ada yang nemenin dan ngajagain kamu kan? Gimana bisa aku datang gitu aja. Prinsip aku kan selalu nggak pernah mau masuk ke kehidupan orang yang sudah punya kehidupan lain, just because I don’t want to feel the same.” Bernard kembali memalingkan wajahnya ke arahku, menatap ku kembali dengan kedua matanya yang berwarna cokelat muda, mengenggam tanganku erat dan kembali mencium keningku lama. And I do is just using a fake smile and all on silent mode. “Dreani, will you be mine back? Once more be mine for my whole life time?”
“Ber, kita udah pernah bahas ini kan, aku cuma nggak pernah mau di antara kita mengkhianati prinsip kita masing-masing, aku….”
I’ve been thinking about this for a long time, Dre. Di Belanda aku nggak pernah bisa ngasih hati aku buat siapa-siapa. Di Indonesia, siapa sih yang ngehabisin waktu aku selama masa-masa high school dulu, kalo nggak cuma sama kamu. Do I have a choice? No, Dreani, big zero. Can we just through this and find the way together?”
Drrt… Drrt… Mas Andra is calling..
“Ber, I need to go now. Mas Andra is waiting for me, can we talk about this later? I’ll be in Bandung for this three days, mas Andra mau lamaran.”
Bernard membetulkan posisi duduk awalnya dan menarik lenganku kembali sebelum aku pergi, “Promise me, we will talk about this later, Dre?” aku mendekatkan wajahku ke telinganya. “Promise me, Ber!”

Tidak ada yang persis tahu bagaimana kejadian mengerikan itu terjadi. Sekitar pukul lima dini hari, mobil sedan hitam keluaran tiga tahun lalu mengalami kecelakaan. Sebuah bus menghantam keras bagian depan mobil yang berputar di jalan tol KM 49 menuju Bandung. Di duga ban mobil dari mobil tersebut pecah dan pengemudi tidak bisa mengendalikan mobil karena sedang berada pada kecepatan tinggi. Total korban jiwa adalah dua orang, berasal dari mobil sedan tersebut. Sedangkan 13 orang lainnya luka-luka berasal dari bus di belakangnya yang ikut tertabrak akibat supir yang ternyata mengantuk. Diketahui dari tanda pengenalnya, kedua korban ini adalah saudara kandung bernama Andra Prasetyo dan Adreani Prasetyo. Sekian berita dari kami. Sekilas warta pagi, kembali ke studio.

Menepati janjiku, hari ini aku datang mampir ke rumah mas Andra untuk menemui Bunda di rumah. Iya, menemui Bunda, menemaninya dalam duka dan air mata. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata. Ada rasa gundah yang hari ini aku tahu jawabannya. Rasa khawatir akan keraguan yang ternyata ini artinya. Bukan, bukan ragu pada apa yang ada di depan, tapi ragu apakah aku akan bisa menjalankan kehidupanku yang baru, tanpa mas Andra? Kembali aku memeluk orang tua di depan ku yang sedang menunggu kehadiran dua jasad putra-putrinya. Iya, kedua hartanya yang paling berharga yang kini harus kembali lagi kepada yang telah menitipkannya. Bunda, Bunda adalah wanita yang paling kuat yang pernah aku kenal, Bunda adalah wanita yang terbaik karena telah melahirkan putra untuk mengisi hari-hariku beberapa tahun belakangan, walau tidak untuk beberapa tahun ke depan dan tidak untuk selamanya. Seketika itu pun air mata ku terjatuh, pecah dari bendungnya. “Dini, maafkan Bunda, tidak bisa memberikan putra Bunda kepadamu, karena Bunda sudah harus mengembalikannya.”

Hari ini tepat di hari aku berjanji akan menjawab pertanyaannya dan kembali membahasnya bersama. Bernard Dharma, maafkan aku. Kembali aku mengingkari janji ku. Dulu pernah aku sekali ingkar janji, bagaimana tidak, kau bodoh sekali mau menunggu ku usai sekolah, padahal sudah jelas aku sedang merajuk karena ada adik kelas yang centil mendekatimu. Bernard, maafkan aku. Ingkar janjiku kali ini bukan lagi hanya karena hal sepele waktu itu. Bernard, maafkan aku. Cepat pulang sana! Jangan terlalu lama memandangku begitu. Sudah hampir hujan, cepat pulang! Tidak ada yang tergubris karena tidak ada wujud si penggubris. Bernard tetap di sana, duduk di sana menghadap batu nisan bertuliskan namaku di atasnya. Bernard, maafkan aku.

Part 2 and the end. -@fadilamh

Sunday, August 18, 2013

A journey.

Sebuah perjalanan hidup, mari kita sebut itu perjalanan yang singkat. Perjalanan yang akan dilewati oleh semua insan. Perjalanan yang tak memandang kasta maupun tahta. Ini tentang sebuah perjalanan, memandang kehidupan dari arah berlawanan. Tanpa pernah tahu ujung dari kisahnya. Tanpa pernah mengenali apa yang terjadi, salah kah atau benar kah. Tanpa pernah mengatakan iya aku menemukan apa yang aku cari. Tidak ada yang tahu. Karena manusia, tidak banyak tahu apa yang mereka inginkan, maka tak tahu pun mereka apa yang akan di cari. Maka tidak akan pernah ada yang ditemukan.

Ah, aku terlalu bertele-tele sepertinya. Pagi ini aku terbangun, masih terasa pegalnya punggung dan beberapa bagian tubuhku akibat begadang semalam. Udara kota ini yang membangunkan ku sebenarnya, dingin menusuk. Langit masih gelap, suara ayam baru mulai terdengar dari ayam yang berada paling jauh sepertinya. Garut, aku tinggal di sini untuk beberapa minggu belakangan ini. Tugas mahasiswa kampus, turun desa atau mari kita sebut 'KKN' hingga banyak anak kecil yang datang menghampiri ketika kami tiba dan selalu memanggil kami 'Kaka N! Kaka N! Mau kemana?' Tanpa benar-benar menghafal nama kami satu per satu. Yah, kami pun juga begitu, tak mampu menghafal anak-anak di desa ini satu per satu. Aku lupa, aku selalu menyebut kami, tanpa tahu siapa kami itu. Kalau kata orang sunda, kami ada genep jami, enam orang maksudnya, aku, Cici, Lia, Bodi, Babang, Jo. Well, beberapa nama mereka ada yang seketika berubah panggilan, seperti Cici, dia Chineese, nama aslinya Helen, aku lebih suka memanggilnya Cici, lebih pas. Babang, aduh namanya Khoerul, namun emailnya adalah babang khoe, lebih mudah memanggil dia Babang, kan? Bodi, nama aslinya Sarah, kalau ini memang nama panggilannya Bodi, kurang tahu asal mu asalnya, hanya memanggilnya Bodi. Lia, ini memang nama aslinya, lebih sering memanggilnya Li, sudah cukup. Jo, ayolah nama aslinya sangat Indonesia, Jawa sekali maksudku, Sutarjo.

Sudah sekitar lima minggu kami tinggal di sini, di rumah Ibu Tati. Rumah yang kami tempati tergolong cukup nyaman. Desanya pun tak jauh dari jalan raya dan pusat keramaian. Dibandingkan dengan desa mahasiswa lainnya yang cukup menanjak ke arah Gunung Cikuray dan rumah tinggal yang sebagian memang apa adanya. Faktanya, ada baik ada buruknya, agak susah untuk kami menjangkau semua kampung yang ada di desa ini, total ada delapan kampung dan yang intens kami ikuti perkembangannya hanya sekitar setengahnya. Oleh karena itu, ada strategi yang kami lakukan, masuk melalui aparat-aparat desa langsung untuk menjalankan program. Dalam beberapa minggu ini sudah ada empat kegiatan dari enam rencana awal yang sudah kami laksanakan, diantaranya Sosialisasi Pembuatan Tepung Ubi kepada Ibu PKK, mengajar Pendidikan Lingkungan Hidup anak-anak SD, Sosialisasi Unit Pengolahan Zakat dan Koperasi serta beberapa kegiatan pendukung seperti Pemetaan Sawah, Pekarangan Terpadu dan Penyuluhan Organisme Pengganggu Tanaman yang masih sedang berjalan dan akan dilaksanakan segera.

Ada cerita tentang kami ketika melaksanakan pemetaan sawah. Seperti biasa, bangun di pagi hari, kami menuju daerah persawahan, mencari petani yang sedang bekerja atau sekedar bersantai, kemudian mulai menggunakan jurus wawancara dalam bahasa sunda kami yang.......seadanya. Dari enam orang, hanya Babang yang lancar berbahasa Sunda., sisanya senyum ketika yang diajak berbicara senyum, serius ketika ekspresinya serius, menjawab 'nggak lancar bahasa Sunda' ketika diajak atau sekedar ditanya dalam bahasa Sunda. 'Puten pak, kami ti Bogor, mau nanya-nanya' 'Iya neng' 'Bapak punten namina saha pak?' merasa tidak ada yang salah dengan bahasa Sunda campur, Bapak justru menghampiri, bertolak pinggang kemudian seperti merajuk dalam bahasa Sunda yang bahkan kami tak tahu apa artinya, hanya paham bahwa beliau....marah. Sialnya tidak ada Babang saat itu karena suatu alasan, well ya, all the things that we can do are just smile and say, 'Maaf pak, kami ke sini, mau belajar, kami mahasiswa pak' kemudian bapak berubah ekspresi dan berbalik tersenyum meminta maaf. Well, ada yang salah dengan cara penyampaian kami, mungkin. Pelajarannya adalah mari berbicara Indonesia saja :)))

Berdekatan dengan banyak orang di sini, masyarakat yang berbeda pola pikir, kebiasaan, dan cara, membuat ku belajar banyak dan banyak belajar. Belajar bahwa ada bagian lain dari negara ku sendiri, bagian sebelah lain yang beberapa punya kearifan lokal sendiri dan sebagian masih butuh bantuan untuk sebuah perubahan. Masih ada sepuluh hari lagi terhitung dari sekarang untuk kami tinggal dan menyelesaikan apa yang harus kami selesaikan di sini. Entah apa yang akan terjadi dalam sepuluh hari nanti, harapan kami adalah rasa rindu akan kota dan desa ini selalu akan ada kelak nanti kami pergi meninggalkan ini.

Satu hal yang lebih bukan dari hanya sekedar menghabiskan waktu di sini adalah aku mencoba untuk menghabiskan waktu, mengalihkan pikiran, meninggalkan sebentar, menjauhkan perasaan dari hal-hal sepele tentang hati dan perasaan. Terimakasih Tuhan untuk sebuah kesempatan ini. Terimakasih.

Di suatu pagi, putaran lagu playlist buatanmu, antah berantah, seperti kamu. -@fadilamh
Desa Sukarame, Garut, H - 10 hari kepulangan.

Thursday, July 18, 2013

Sebuah cerita.

Ada yang hilang. Memang, ada yang hilang. Bukankah memang seharusnya begitu? Kembali aku menatap sorot mataku sendiri melalui pantulan kaca spion mobil ku. Ah kemacetan Ibu kota yang tak pernah ada habisnya. Seharusnya hari ini aku sudah menginjakkan kaki ku lebih pagi dari biasanya di tempat baru yang bisa di bilang calon kantor ku. Yap, masih dalam tahap magang selama tiga bulan ke depan, masa percobaan. Lucu sekali calon kantor ku ini, ada masa percobaan, makanya aku sebut masih calon kantor. Aku tersenyum kembali melihat rentetan mobil di depan dan belakangku. "Cring.." ada pesan masuk, tidak kenal nomornya, tapi pernah lihat, batinku.

Inbox: +6285287560xxx
Hi Dreani..

Kembali ku picingkan mata ku sembari mengingat nomor yang tertera di ponsel pintarku. "Tiiin.. Tiiiin.." klakson mobil di belakang ku cukup menghentak ku untuk kembali menatap jalan di depan. Memutar balik mobil ku di bilangan bundaran HI, berjalan lurus dan membelokannya ke dalam gedung yang ku sebut calon kantor ku. Aku menatap jam tangan ku, pukul 7.45, belum terlambat, pikir ku. Belum terlambat untuk berbelok ke toilet terlebih dahulu untuk membenarkan diri dan make up ku pagi ini. "Andreani, are you ready for this?" ucap ku melemparkan tanya kepada cermin di hadapan ku, kemudian menjawab dengan senyum.
...

"Halo Bun, I'm fine. Just kinda tired in the first day. But still spirit up for this! Bunda apa kabar?" tanya ku melalui telpon setiba di apartemen, tempat tinggal sementara ku di bilangan Jakarta Selatan. Hari ini benar-benar melelahkan, ada banyak hal kecil mendetail yang harus aku pelajari dan kerjakan.
"Iya Bunda baik kok, semua di sini baik. Dua minggu lagi mas mu ada lamaran, bisa pulang kan nak?"
"Ya ampun aku hampir aja lupa, siap, tapi aku baru bisa pulang H-1 Bun, nggak apa-apa? I'll try to be on time kok"
"Iya, kamu segera kabari mas mu ya, jangan bikin dia khawatir, sepertinya mas mu butuh teman cerita, maklum sudah akan mengganti status. Nanti kalo mas mu sudah buat orang lain khawatirnya, kamu toh nyariin kan?"
"Iya Bunda, I will, promise me!" aku tersenyum, mengingat bagaimana mas Andra begitu khawatir dengan keputusanku untuk mengambil pekerjaan di Jakarta, meninggalkan Bandung, kota kelahiran ku, begitu saja. Mas Andra, kakak kandung ku satu-satunya, sekaligus saudara kembar ku. Bagaimana tidak khawatir, dari kecil kami selalu berada di kota yang sama. Berpindah dari Jogjakarta ke kota Bandung pun tetap tak terpisahkan. Sampai akhirnya aku memiliki kesempatan melanjutkan kuliah ku juga di Bandung di satu Universitas yang sama tetap dengannya. Tapi cita-cita ku untuk bekerja di tempat calon kantor ku ini juga hal yang sangat aku inginkan, bergabung menjadi bagian dari tim internasional yang mengabdi untuk negara dan membantu yang lain.
...

"Halo selamat pagi mas Andraaaaa!" ucap ku dari ujung telpon.
"Halo, iya iya, pagi-pagi udah berisik deh" terdengar suara bangun tidur dari ujung lainnya.
"Aduh yang udah mau ganti status" goda ku.
"Kamu nih ya, kamu kapan pulang ke Bandung, nggak mau lihat aku pakein cincin di jari manis mba Dini?"
"Duh yang takut soulmate sehatinya nggak dateng, iya mas aku dateng kok tapi baru dateng H-1, nggak apa-apa ya?"
"Kok H-1 An? Sibuk banget ya? Aku jemput deh H-3 ya aku ke Jakarta"
"Eh.. Jangan mas!! Calon yang mau tunangan baik-baik aja di rumah, duduk yang manis, aku ke Bandung kok pasti, pinky promise!" jelas ku manja. Mas Andra, sahabat terbaik, pelengkap keluarga dan pengganti pacar. Kembali teringat pada beberapa kejadian di masa-masa labil ku dengan kehadiran orang-orang yang ingin menggantikan posisi mas Andra sebagai 'pacar'. 'Mana ada sih yang bisa ngengantiin mas Andra di hati aku? Mana ada sih yang bisa lebih romantis dari mas Andra? Mana ada sih yang bisa super galak dari mas Andra? Nggak ada mas, nggak ada.' Begitu ucap ku ketika pertama kalinya aku memutuskan untuk mempunyai pacar setelah sekian banyak penolakan yang aku lakukan, siapa lagi kalau bukan akibat hasutan mas Andra. Dan ya pertama kalinya aku memutuskan hal tersebut, terbuka pertama kalinya lah potensi terbesar untuk ku patah hati. Ah iya patah hati, tadinya aku ingin bercerita tentang hal ini.
"Iya yaudah, kamu ke sini sama Risan?" Ah!
"Mas, can we just not to talk about him again?" pinta ku.
"Loh kamu udahan sama Risan, An?"
"Aduh mas, kok tumben sih nggak peka"
"Kamu sibuk, jarang ketemu, mana tahu aku kamu gimana keadaannya sekarang. Aku ke Jakarta besok pagi, meet me up like very soon after your office hour, ok dear?" pernyataan dan pertanyaan seperti ini yang tidak pernah bisa aku bantah atau pun menolak.
"Well, no rejection are right in here, right?" Mas Andra, tak tahu bagaimana nanti ketika kamu benar-benar akan mengalihkan rasa khawatir mu untuk wanita lain, bukan aku, lagi.
....

"Cring..."
Inbox: +6285287560xxx
Dre, kamu apa kabar?

Nomor yang sama seperti tempo hari. Ah iya, aku belum menggubris pesan sapa waktu itu.
Sent: Me
Maaf, saya kenal kamu?

Inbox: +6285287560xxx
Bernard, Dre. Have you delete my number, huh?

Sent: Me
Still using this number? I thought you're not. Baru balik ke Indo? Dari kapan?

Inbox: +6285287560xxx
Ini minta nomor ini di aktifin lagi. Yap, about three months already here. Kamu dimana sekarang?

Sent: Me
Udah tiga bulan di sini, baru kasih tahu sekarang? Ck. Di Jakarta Ber.

Inbox: +6285287560xxx
Iya sorry, kemarin sibuk urus kepindahan. Di Jakarta? Can we meet for very soon? How about tonight?

Sent: Me
Well, I'm free for tonight, see you then!

Inbox: +6285287560xxx
Great, see you Dreani, I miss you.

Aku tersenyum menatap layar ponsel ku dan tersentak ingat ketika melihat update seseorang di akun sosialnya, 'On my way to Jakarta, weather be nice' mas Andra!! Oow I'm in trouble, yes I am, seperti memulai kembali masuk ke dalam dunia lama, sewaktu itu.
...
Subuh dini hari, part 1-@fadilamh