Showing posts with label my project. Show all posts
Showing posts with label my project. Show all posts

Monday, December 30, 2013

Dear Gerardi.

Malam ini aku tidak bisa terlelap lagi. Ini malam kesekian semenjak kehadiranmu digantikan dengan sosok lain di kehidupanku. Andro namanya, dia bukan orang Jawa sepertimu. Dia orang Sumatera campuran Sunda. Jauh berbeda dengan banyak sifatmu, hampir berlawanan. Aku sampai sulit menyesuaikan diri karena terbiasa dengan sifatmu. Andro adalah pilihan Ayah Ibu ku. Mereka yang menjodohkan kami. Kamu jangan cemburu! Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Seperti katamu tempo hari, tidak ada yang lebih tahu tentang apa yang terbaik selain orang tua yang membesarkanmu. Baiklah untuk kali ini kamu boleh mematahkan pernyataanku bahwa yang terbaik hanya diri sendiri yang tahu. Kamu ingat kita menghabiskan hampir setengah hari untuk berdebat tentang hal ini dan tiga hari untuk ku tidak tersenyum tulus untuk mu karena kesal. Baiklah ini memang tentang prinsip hidup, mungkin ini juga yang membuat kita tidak akan pernah bersatu.

Iya aku dan kamu, kita berbeda prinsip. Lalu apa yang kita bisa pertahankan selama lebih dari lima tahun ini? Baiklah Ayah dan Ibu benar. Itu ego, ego kita masing-masing untuk saling menaruh kepercayaan di pundak satu sama lain untuk percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dan kenyataannya, ada banyak hal yang memang tidak mungkin seperti aku dan kamu bersama selamanya, itu tidak mungkin. Hanya ada sementara, bukan selamanya. Artinya sementara kita telah habis. Perjuangan kita untuk sebuah penyatuan sudah harus terhenti. Berhenti di beberapa pekan lalu. Setelah cukup lama kita sama-sama menaruh ego dan bukan kepercayaan di pundak masing-masing. Sementara kita, lima tahun kita, sudah harus tutup cerita. Kita sama-sama sudah tidak bisa berada pada akhir cerita yang sama. Mungkin memang begitu sebuah takdir dirancang untuk aku bukan bersamamu dan kamu bukan bersamaku.

Gerardi, terima kasih untuk lima tahun yang sudah kita rancang bersama di hari pertama kita saling menatap sebagai pemimpi. Mimpi itu indah, karena rasanya cukup lama aku tidak terbangun, lima tahun Gerardi. Sampaikan salamku pada Mama, katakan maaf aku tidak bisa berada disampingmu di hari bahagiamu nanti. Katakan maaf pada Papa, aku tidak bisa memeluk erat dirinya sebagai pemberi cucu pertama untuk keluarga mu. Berikan pelukan terhangat untuk Luna, katakan betapa aku ingin bersamanya di hari wisudanya, tapi aku tidak akan bisa. Gerardi, jangan lupa katakan pada Biba, untuk tidak mengikuti dan loncat kepangkuan orang yang kamu sayangi kelak, karena itu mengagetkan.

Gerardi, 11 hari lagi adalah hari yang Ayah dan Ibuku nantikan. Tapi 11 hari rasanya seperti esok. Malam ini aku masih terjaga, takut rasanya berada di pelaminan dengan orang yang baru saja aku kenal. Tapi kamu percaya bahwa Ayah Ibu tahu yang terbaik untuk anaknya, bukan? Aku berani taruhan, ketika kamu membaca ini, kamu akan menggigit bibir karena sudah mendebatku ketika itu. Gerardi, kamu hebat! Dan akan selalu begitu. Titip rinduku untuk mimpi kita. Boleh aku berdoa esok aku kembali di mimpi kita, bukan mimpi aku dan orang lain atau pun kamu dan orang lain. Boleh aku terus bermimpi?

Ini hanya cerita. Bukankah semua orang punya ceritanya?-@fadilamh

Monday, August 19, 2013

Sebuah cerita.

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi, firasat ku ingin kan kau tuk cepat pulang cepat kembali, jangan pergi lagi.
Lantunan lagu terdengar sayup di telinga ku, membuatku sekejap menerawang. Sebait lagu untuk, entah siapa. Beberapa hari lagi adalah hari pertunangan ku dengan pria yang aku idam-idamkan. Hitungan hari lagi status ku berubah menjadi tunangan orang. Dalam segenap hati di bilangan hari ini ada yang baru-baru ini saja timbul di hati. Entah apa namanya, mungkin khawatir, atau pun cemas, atau kah orang menyebutnya ragu? Entahlah, belakangan ini rasa takut sering menggerogoti. Belakangan ini entah bagaimana ada rasa mulai tak pasti antara meragukan dia, kami atau diri ku sendiri.
Curahan hati belakangan hari kemarin pun sampai di telinga Lastri, sahabat ku, "Aduh percaya deh sama aku, ya wong kalo mau kawin aja pasti ada resahnya, wedi inilah, wedi itulah. Kamu kan baru mau tunangan aja lho Din. Kamu ikhlas, apa pun sing terjadi, insyaAllah yang terbaik." aku masih diam. Ya, masih entah tak tahu apa yang di ragu.
Drrt... Drrt...
"Halo mas, iya aku tadi abis fitting kebaya ulang, kan yang kemarin masih kurang pas, kamu jadi ke Jakarta? Kamu hati-hati ya mas! Iya, insyaAllah. Wallaikumsalam" suara di ujung telepon berakhir. Masih enggan berpikir banyak, aku memutuskan untuk mengistirahatkan badan, pikiran dan hati, mungkin.

“Aku udah mau deket daerah apartemen mu nih, kamu masih di kantor? I’ll stay in lobby ya An.” Suara diujung telepon menghentakanku.
“Mmm.. mas Andra, will you stay a lil bit longer there? Atau mas Andra kemana dulu gitu, cari titipan mba Dini atau Bunda atau ke rumah temen mas Andra gitu, will you?” tanyaku.
“Loh kamu masih ada meeting or something gitu di kantor ya?”
“Mm.. Nggak sih, eh iya mas iya ada, masih ada yang harus aku selesaiin, gonna be late, is it ok?”
Ok then, I’ll come back again later. Susah deh adik satu-satunya udah mulai sibuk, cinta sama dunianya sih, mas nya udah nggak di cinta lagi.” Rajuk mas Andra di telepon membuat ku ingin segera memeluknya manja kemudian mencubit kedua pipinya.
I love you, mas!” klik.
And another phone call in, Bernard. “Dre, sudah selesai ngantornya? Mau aku jemput sekalian?”
“Hmm.. Nggak usah Ber, aku bawa mobil sendiri aja, kita meet up dimana? Lagian aku nggak bisa lama-lama nih, soalnya ada….”
Your boyfriend ya?” tanyanya memotong bicaraku.
Boyfriend for a lifetime sih lebih tepatnya, mas Andra, Ber”
“Oh ok, kalau yang satu itu aku nggak bisa ganggu gugat. Ok deh, you pick the place ya, text me if you’ve done, see you Dre!”
See you Ber!” Hal yang selalu aku sembunyikan dari mas Andra, Bernard Dharma, tidak ada yang salah sebenarnya dengannya. Hal yang salah adalah hubungan yang kami pernah jalin. Mas Andra tidak pernah setuju dan tidak akan pernah setuju dengan hubungan ku dan Bernard. Bagaimana tidak, aku dan Bernard berbeda keyakinan. Perbedaan mendasar yang akan selalu menjadi dinding tinggi menjulang dan terpanjang yang tak pernah bisa dihancurkan. Ah, berlebihan memang, tapi memang begitu jalan yang harus aku jalani. Sudah lama sebenarnya Bernard tak menghubungi ku, semenjak orang tuanya memutuskan Bernard untuk meneruskan kuliahnya di Belanda, ‘Ya akan lebih baik mendapat pendidikan di sana, dibandingkan di negara sendiri, Bernard juga akan belajar banyak untuk hidup mandiri. Jadi tante juga bisa tenang nanti kalo Bernard udah bisa apa-apa sendiri. Kamu kan jadi ikut senang nanti kan?’ perkataan tante Miranda seketika itu di bandara, terakhir kalinya aku melihat Bernard, sekaligus mengantar kepergiannya dengan status teman. Iya, teman. Aku kembali membenarkan posisi ku menyetir, melihat kaca spion, meyakinkan diri, bahwa tidak akan pernah terjadi lagi perasaan yang sama.

“Halo, iya Bunda, Andra udah di jalan lagi mau ke apartemen An nih, tadi abis beli kue-kue titipan Bunda. Iya Bunda, I’ll be fine, bunda kenapa sih? Kok kayaknya lagi khawatiran banget. Iya Bunda aku atau pun Adreani akan baik-baik aja kok. Bunda jangan lupa di minum vitaminnya ya. Salam buat Ayah, bilang jangan kecapean juga, Dini besok mau mampir ke rumah katanya. Iya Bunda, I love you too!
Klik. “Ah c’mon An where are you?”

“Kamu kapan balik lagi ke Belanda? Ada niat nerusin ngantor di Jakarta aja?” tanyaku.
“Belum tahu sih, bingung nih, Mami maunya aku ya nggak jauh-jauh dari dia di Jakarta aja. Tapi boss di Belanda masih nggak rela aku pergi, maklum kesayangan nih” candanya.
“Ih kesayangan om-om gitu ya?”
“Ih rese!” reflek Bernard memencet hidungku dan mencium keningku lama. Bagaimana tidak reflek menjauh, sudah hampir lima tahun, aku tidak pernah Bernard dan kembali bertemu, Bernard masih memperlakukan ku dengan sikap yang sama. Tuhan, jaga perasaan ku Tuhan.
“Kamu nggak cari bule Belanda aja di sana?” tanyaku mengalihkan pikiran dalam kecanggungan.
“Nggak lah, orang hatinya udah buat orang Indonesia sih.” Jawabnya santai, melirik ku.
“Ha.. Ha.. Ha.. Kamu nih ya! Eh di sana tinggal dimana? Asik nggak?”
“Kamu tuh ya, emang udah dari dulu nggak jago basa-basi apalagi ngalihin pembicaraan. Dre, don’t you know how much I miss you? I miss us, Dre.” Aku terdiam, hening, tak tahu harus menjawab apa, seperti agak sulit bernapas. “Setiap tahun aku selalu pulang Dre, aku pulang buat Mami, aku pulang juga buat kamu.” Kembali aku merasakan jantungku berhenti untuk sepersekian waktu dan aliran darah di kepala ku mulai melambat. “Yah tapi di setiap aku pulang, selalu ada yang nemenin dan ngajagain kamu kan? Gimana bisa aku datang gitu aja. Prinsip aku kan selalu nggak pernah mau masuk ke kehidupan orang yang sudah punya kehidupan lain, just because I don’t want to feel the same.” Bernard kembali memalingkan wajahnya ke arahku, menatap ku kembali dengan kedua matanya yang berwarna cokelat muda, mengenggam tanganku erat dan kembali mencium keningku lama. And I do is just using a fake smile and all on silent mode. “Dreani, will you be mine back? Once more be mine for my whole life time?”
“Ber, kita udah pernah bahas ini kan, aku cuma nggak pernah mau di antara kita mengkhianati prinsip kita masing-masing, aku….”
I’ve been thinking about this for a long time, Dre. Di Belanda aku nggak pernah bisa ngasih hati aku buat siapa-siapa. Di Indonesia, siapa sih yang ngehabisin waktu aku selama masa-masa high school dulu, kalo nggak cuma sama kamu. Do I have a choice? No, Dreani, big zero. Can we just through this and find the way together?”
Drrt… Drrt… Mas Andra is calling..
“Ber, I need to go now. Mas Andra is waiting for me, can we talk about this later? I’ll be in Bandung for this three days, mas Andra mau lamaran.”
Bernard membetulkan posisi duduk awalnya dan menarik lenganku kembali sebelum aku pergi, “Promise me, we will talk about this later, Dre?” aku mendekatkan wajahku ke telinganya. “Promise me, Ber!”

Tidak ada yang persis tahu bagaimana kejadian mengerikan itu terjadi. Sekitar pukul lima dini hari, mobil sedan hitam keluaran tiga tahun lalu mengalami kecelakaan. Sebuah bus menghantam keras bagian depan mobil yang berputar di jalan tol KM 49 menuju Bandung. Di duga ban mobil dari mobil tersebut pecah dan pengemudi tidak bisa mengendalikan mobil karena sedang berada pada kecepatan tinggi. Total korban jiwa adalah dua orang, berasal dari mobil sedan tersebut. Sedangkan 13 orang lainnya luka-luka berasal dari bus di belakangnya yang ikut tertabrak akibat supir yang ternyata mengantuk. Diketahui dari tanda pengenalnya, kedua korban ini adalah saudara kandung bernama Andra Prasetyo dan Adreani Prasetyo. Sekian berita dari kami. Sekilas warta pagi, kembali ke studio.

Menepati janjiku, hari ini aku datang mampir ke rumah mas Andra untuk menemui Bunda di rumah. Iya, menemui Bunda, menemaninya dalam duka dan air mata. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata. Ada rasa gundah yang hari ini aku tahu jawabannya. Rasa khawatir akan keraguan yang ternyata ini artinya. Bukan, bukan ragu pada apa yang ada di depan, tapi ragu apakah aku akan bisa menjalankan kehidupanku yang baru, tanpa mas Andra? Kembali aku memeluk orang tua di depan ku yang sedang menunggu kehadiran dua jasad putra-putrinya. Iya, kedua hartanya yang paling berharga yang kini harus kembali lagi kepada yang telah menitipkannya. Bunda, Bunda adalah wanita yang paling kuat yang pernah aku kenal, Bunda adalah wanita yang terbaik karena telah melahirkan putra untuk mengisi hari-hariku beberapa tahun belakangan, walau tidak untuk beberapa tahun ke depan dan tidak untuk selamanya. Seketika itu pun air mata ku terjatuh, pecah dari bendungnya. “Dini, maafkan Bunda, tidak bisa memberikan putra Bunda kepadamu, karena Bunda sudah harus mengembalikannya.”

Hari ini tepat di hari aku berjanji akan menjawab pertanyaannya dan kembali membahasnya bersama. Bernard Dharma, maafkan aku. Kembali aku mengingkari janji ku. Dulu pernah aku sekali ingkar janji, bagaimana tidak, kau bodoh sekali mau menunggu ku usai sekolah, padahal sudah jelas aku sedang merajuk karena ada adik kelas yang centil mendekatimu. Bernard, maafkan aku. Ingkar janjiku kali ini bukan lagi hanya karena hal sepele waktu itu. Bernard, maafkan aku. Cepat pulang sana! Jangan terlalu lama memandangku begitu. Sudah hampir hujan, cepat pulang! Tidak ada yang tergubris karena tidak ada wujud si penggubris. Bernard tetap di sana, duduk di sana menghadap batu nisan bertuliskan namaku di atasnya. Bernard, maafkan aku.

Part 2 and the end. -@fadilamh

Thursday, July 18, 2013

Sebuah cerita.

Ada yang hilang. Memang, ada yang hilang. Bukankah memang seharusnya begitu? Kembali aku menatap sorot mataku sendiri melalui pantulan kaca spion mobil ku. Ah kemacetan Ibu kota yang tak pernah ada habisnya. Seharusnya hari ini aku sudah menginjakkan kaki ku lebih pagi dari biasanya di tempat baru yang bisa di bilang calon kantor ku. Yap, masih dalam tahap magang selama tiga bulan ke depan, masa percobaan. Lucu sekali calon kantor ku ini, ada masa percobaan, makanya aku sebut masih calon kantor. Aku tersenyum kembali melihat rentetan mobil di depan dan belakangku. "Cring.." ada pesan masuk, tidak kenal nomornya, tapi pernah lihat, batinku.

Inbox: +6285287560xxx
Hi Dreani..

Kembali ku picingkan mata ku sembari mengingat nomor yang tertera di ponsel pintarku. "Tiiin.. Tiiiin.." klakson mobil di belakang ku cukup menghentak ku untuk kembali menatap jalan di depan. Memutar balik mobil ku di bilangan bundaran HI, berjalan lurus dan membelokannya ke dalam gedung yang ku sebut calon kantor ku. Aku menatap jam tangan ku, pukul 7.45, belum terlambat, pikir ku. Belum terlambat untuk berbelok ke toilet terlebih dahulu untuk membenarkan diri dan make up ku pagi ini. "Andreani, are you ready for this?" ucap ku melemparkan tanya kepada cermin di hadapan ku, kemudian menjawab dengan senyum.
...

"Halo Bun, I'm fine. Just kinda tired in the first day. But still spirit up for this! Bunda apa kabar?" tanya ku melalui telpon setiba di apartemen, tempat tinggal sementara ku di bilangan Jakarta Selatan. Hari ini benar-benar melelahkan, ada banyak hal kecil mendetail yang harus aku pelajari dan kerjakan.
"Iya Bunda baik kok, semua di sini baik. Dua minggu lagi mas mu ada lamaran, bisa pulang kan nak?"
"Ya ampun aku hampir aja lupa, siap, tapi aku baru bisa pulang H-1 Bun, nggak apa-apa? I'll try to be on time kok"
"Iya, kamu segera kabari mas mu ya, jangan bikin dia khawatir, sepertinya mas mu butuh teman cerita, maklum sudah akan mengganti status. Nanti kalo mas mu sudah buat orang lain khawatirnya, kamu toh nyariin kan?"
"Iya Bunda, I will, promise me!" aku tersenyum, mengingat bagaimana mas Andra begitu khawatir dengan keputusanku untuk mengambil pekerjaan di Jakarta, meninggalkan Bandung, kota kelahiran ku, begitu saja. Mas Andra, kakak kandung ku satu-satunya, sekaligus saudara kembar ku. Bagaimana tidak khawatir, dari kecil kami selalu berada di kota yang sama. Berpindah dari Jogjakarta ke kota Bandung pun tetap tak terpisahkan. Sampai akhirnya aku memiliki kesempatan melanjutkan kuliah ku juga di Bandung di satu Universitas yang sama tetap dengannya. Tapi cita-cita ku untuk bekerja di tempat calon kantor ku ini juga hal yang sangat aku inginkan, bergabung menjadi bagian dari tim internasional yang mengabdi untuk negara dan membantu yang lain.
...

"Halo selamat pagi mas Andraaaaa!" ucap ku dari ujung telpon.
"Halo, iya iya, pagi-pagi udah berisik deh" terdengar suara bangun tidur dari ujung lainnya.
"Aduh yang udah mau ganti status" goda ku.
"Kamu nih ya, kamu kapan pulang ke Bandung, nggak mau lihat aku pakein cincin di jari manis mba Dini?"
"Duh yang takut soulmate sehatinya nggak dateng, iya mas aku dateng kok tapi baru dateng H-1, nggak apa-apa ya?"
"Kok H-1 An? Sibuk banget ya? Aku jemput deh H-3 ya aku ke Jakarta"
"Eh.. Jangan mas!! Calon yang mau tunangan baik-baik aja di rumah, duduk yang manis, aku ke Bandung kok pasti, pinky promise!" jelas ku manja. Mas Andra, sahabat terbaik, pelengkap keluarga dan pengganti pacar. Kembali teringat pada beberapa kejadian di masa-masa labil ku dengan kehadiran orang-orang yang ingin menggantikan posisi mas Andra sebagai 'pacar'. 'Mana ada sih yang bisa ngengantiin mas Andra di hati aku? Mana ada sih yang bisa lebih romantis dari mas Andra? Mana ada sih yang bisa super galak dari mas Andra? Nggak ada mas, nggak ada.' Begitu ucap ku ketika pertama kalinya aku memutuskan untuk mempunyai pacar setelah sekian banyak penolakan yang aku lakukan, siapa lagi kalau bukan akibat hasutan mas Andra. Dan ya pertama kalinya aku memutuskan hal tersebut, terbuka pertama kalinya lah potensi terbesar untuk ku patah hati. Ah iya patah hati, tadinya aku ingin bercerita tentang hal ini.
"Iya yaudah, kamu ke sini sama Risan?" Ah!
"Mas, can we just not to talk about him again?" pinta ku.
"Loh kamu udahan sama Risan, An?"
"Aduh mas, kok tumben sih nggak peka"
"Kamu sibuk, jarang ketemu, mana tahu aku kamu gimana keadaannya sekarang. Aku ke Jakarta besok pagi, meet me up like very soon after your office hour, ok dear?" pernyataan dan pertanyaan seperti ini yang tidak pernah bisa aku bantah atau pun menolak.
"Well, no rejection are right in here, right?" Mas Andra, tak tahu bagaimana nanti ketika kamu benar-benar akan mengalihkan rasa khawatir mu untuk wanita lain, bukan aku, lagi.
....

"Cring..."
Inbox: +6285287560xxx
Dre, kamu apa kabar?

Nomor yang sama seperti tempo hari. Ah iya, aku belum menggubris pesan sapa waktu itu.
Sent: Me
Maaf, saya kenal kamu?

Inbox: +6285287560xxx
Bernard, Dre. Have you delete my number, huh?

Sent: Me
Still using this number? I thought you're not. Baru balik ke Indo? Dari kapan?

Inbox: +6285287560xxx
Ini minta nomor ini di aktifin lagi. Yap, about three months already here. Kamu dimana sekarang?

Sent: Me
Udah tiga bulan di sini, baru kasih tahu sekarang? Ck. Di Jakarta Ber.

Inbox: +6285287560xxx
Iya sorry, kemarin sibuk urus kepindahan. Di Jakarta? Can we meet for very soon? How about tonight?

Sent: Me
Well, I'm free for tonight, see you then!

Inbox: +6285287560xxx
Great, see you Dreani, I miss you.

Aku tersenyum menatap layar ponsel ku dan tersentak ingat ketika melihat update seseorang di akun sosialnya, 'On my way to Jakarta, weather be nice' mas Andra!! Oow I'm in trouble, yes I am, seperti memulai kembali masuk ke dalam dunia lama, sewaktu itu.
...
Subuh dini hari, part 1-@fadilamh

Thursday, July 11, 2013

Ditinggalkan.

'Ada apa?' Itu balasan yang tertera di ponsel layar putih kecil, ponsel tipe lama. Semalaman aku berangan, berpikir, bertanya, kemudian mencoba menyimpulkan. Mengingat kembali setiap titiknya, kembali memainkan memori, hanya takut ada yang terlewat, tak teringat, hati-hati ku susun puingnya, memori. Tak ada yang salah, tak ada yang terlewat, tak ada yang tertinggal. Karena sekarang yang ada dan tercipta adalah aku yang tertinggal, tak tahu salah dan tak mengerti apa yang terlewat. Rasanya sesak, sulit bernapas. Entah akibat dari kepulan asap dari benda disisipan jemariku ataukah memang begini rasanya sulit bernapas, entah karena apa. Aku memejamkan mata, mencoba untuk mengosongkan pikiran, memberi jeda pada memori dan membiarkan banyak hal untuk tahu dan menyadari satu hal, aku sekarang berada di titik ini. Di titik yang pernah aku buat untuk seseorang rasakan. Titik yang disebut ditinggalkan. Ah percayalah, aku tak selemah dan sesakit yang aku tuliskan. Percayalah, aku hanya sedang melewatinya sesaat. Percayalah, aku mungkin tidak benar-benar mengalaminya. Percayalah, aku selalu begitu. Tapi aku bukan peramal. Aku bukan madam Sahara. Aku bukan cenayang. Aku tidak pernah tahu apa yang kali ini sama seperti biasanya? Ataukah yang kali ini bisa aku sebut kamu, Karma? :)
-@fadilamh

Saturday, June 8, 2013

Hilang.

Kita saling menggenggam, masih saling bertautan tak pernah mau melepaskan. Ada rasa hampa ketika harus menjauhi jiwa. Ada jiwa lepas ketika sadari bahwa kita itu tidak pernah ada. Iya, aku terbangun dan kamu sudah tak ada. Kembali hilang seperti biasanya.
-@fadilamh

Thursday, May 9, 2013

Menunggu.

Tadi malam aku tertidur tanpa sengaja kembali. Iya, benar kembali aku menunggumu dalam lelahku sepanjang hari. Ada suara menderu, ku kira itu berasal dari motormu, ah bukan. Satu.. dua.. tiga.. ada yang membuka pagar, ah ku sangka itu kamu, bukan. Aku kesal, entah harus kesal pada apa. Aku pakai saja headset di telingaku, aku pasang musik dengan volume full, agar aku tak terlalu berharap kalau-kalau itu kamu. Terbangun di pagi ini, ada hal yang aku sadar, kamu iya kamu tidak akan pernah tiba menghampiriku malam tadi, malam ini atau pun malam berikutnya. Kamu.. sudah tenang di alam sana kan? Maaf aku mengganggumu lagi, aku janji malam tadi adalah malam terakhir aku akan benar-benar menunggumu pulang. Ah, maaf air mataku menetes. Kamu.. iya aku rindu kamu. -@fadilamh

Friday, April 12, 2013

Rahasia ada.

Lokasi dan Latar: Bogor, sore hari, hujan rintik, tenang, berputar lagu Marcell album penuh.
Belajar mengalah itu memang tidak mudah ya. Saya buktinya. Belajar dari kesalahan, sudah pastinya. Mencoba mengulang keadaan, apa untungnya. Menjadi yang orang inginkan, percayalah itu tidak indah. Saya belajar bahwa cemburu itu bukan cara untuk mengungkapkan cinta. Saya percaya selalu ada ketenangan pasca keributan, keindahan pasca kesedihan, dan tentunya keberhasilan pasca kegagalan. Dan semuanya dimulai, dilakukan, diselesaikan dan dilalui oleh yang bersangkutan, bukan yang lain. Ada satu hal lagi yang saya percaya, bahwa setiap rahasia, nantinya akan terbongkar, sekecil apapun itu. Ah mari kita bahas arti dari rahasia itu sendiri. Setiap orang pasti punya rahasia, itu bukan yang sering kau dengar? Ya saya juga. Dan saya yakin itu benar. Untuk apa orang menyimpan rahasia? Dalam persepsi saya, rahasia ada karena adanya rasa takut. Semacam ketidakinginan seseorang untuk menyebar luaskan suatu hal tersebut. Bagaimana dengan arti dari rahasia namun di simpan oleh lebih dari satu orang. Ah rahasia itu luas. Rahasia individu, multi, sekelompok, bahkan umum. Tuhan pun punya rahasia. Apakah kau tahu apa yang Tuhan rahasiakan dari saya, kamu, mereka, kita? Tuhan merahasiakan segala sesuatu secara adil, setiap insan diberikan sebuah jalan cerita hidupnya, rahasia yang akan berbuah indah pada akhirnya, jika Tuhan mengizinkan. Ingat, Tuhan adil, buah untuk mu di akhir nanti itu sesuai dengan apa yang kau rahasiakan selama ini. Jadi, apa rahasiamu sebaik dan seadil rahasia Tuhan? Tidak, tidak ada yang bisa menandingi Tuhan. Namun setidaknya, coba berkaca, apakah rahasiamu akan menghasilkan buah yang manis? Jikalau tidak, temukan solusinya, haruskah tetap menjadi rahasia atau berhenti sampai sini saja? -@fadilamh.

Monday, April 8, 2013

Terbungkus rapi.


Hah nggak nyangka, bener-bener nggak nyangka, wanita yang dieluelukan oleh banyak orang, ternyata lemah di hal-hal kayak gini ya. Aku menatapnya heran. Maksudnya? Iya kamu tuh harus tahu seberapa besar orang menganggap kamu wanita kuat, tangguh, layak dikembangkan. Seberapa besar? Di sidang lalu, audiences setuju kamu tidak boleh hanya menghentikan langkahmu sampai di situ-situ saja. Kamu harus terus mengeksplorasi kemampuanmu. Oya? Tanyaku masih terheran-heran. Iya! Aku tersenyum. Hahaha, tawanya pecah. Tapi ya ternyata lemahnya di hal-hal seperti ini, percintaan. Tuhan memang adil, lanjutnya. Iya Tuhan adil, Dia juga memberikan aku satu keahlian tambahan. Apa? Tanyanya bingung. Aku mampu membungkus rapi kekuranganku dalam kemasan cantik nian menarik hati dengan kelebihanku di depan kalian semua. Hmm.. Namun kadang.. Aku kembali terdiam, seolah berpikir tajam. Kadang aku berusaha membungkusnya terlalu rapi, terlalu cantik, sampai-sampai tak punya celah untuk terlihat lemah. Tak punya kesempatan untuk mengeluh. Dan tak punya sandaran untuk mengadu. Mengadu untuk apa? Tanyanya, berganti heran. Mengadu untuk bilang bahwa aku lelah. Lelah untuk terus terbungkus rapi, berusaha menumpuk cacat dengan tambahan lakban berwarna agar tak terlihat. Tuhan adil, dia melanjutkan. Dan kamu tahu itu.
Bersama dia, obrolan penghujung hari melelahkan, di Lawson, minuman isotonik, lelah hari ini, pelajaran hari ini, menunggu waktu kembali pagi. -@fadilamh

Sunday, April 7, 2013

Cerita di Balik Bar Reot.

Kita duduk terdiam di sini, mencoba untuk menyelamatkan apa yang sudah rusak tak terselamatkan. Untuk apa kita bahas kembali? Sudah berakhir sudah. Kamu berusaha memperbaiki apa yang rusak bodoh, mana bisa? Seperti mengembalikan keperawanan wanita suci! Bah! Lupakan saja. Aaaah! Kau ini bicara macam tau saja apa arti dari keperawanan untuk seorang wanita suci! Aku tersentak hebat. Dia melirik ku, terlihat dari ekor matanya. Kenapa? Kau tersinggung? Kau marah? Nyatanya memang begitu bukan? Perlahan air mataku mengalir, aku mulai terisak, rasanya belum pernah ada yang berbicara menohok seperti ini di hadapanku. Sudahlah, Noni, janganlah kau buat aku ini semakin bersalah terhadapmu. Dia membalikan badannya ke arah berlainan menghadap panggung mini di sudut bar reot, berlampu remang ini. Aku tetap pada posisiku menangis sesenggukan. Aku sudah bilang, janganlah kau asal bicara padaku saat emosi begini, jadilah kau kena omongan pedasku, lanjutnya dengan logat khasnya. Aku menghapus air mataku perlahan dengan tisu di depan ku.
Bukan karena perkataanmu aku menangis. Dia mengerutkan dahinya seolah bertanya-tanya kebingungan. Aku menangis, karena apa yang kamu katakan memang benar. Aku tidak pernah tau arti dari keperawanan untuk wanita suci. Aku? Bahkan aku dilahirkan dari rahim Ibu yang tanpa menikah, kecelakaan. Dia menundukan wajahnya, seolah tak ingin mendengar lebih lanjut ceritaku. Ya kecelakaan, ibuku terlalu lalai. Dia bahkan tak bisa membatasi hawa nafsunya dengan pria-pria itu. Ya ada banyak pria memang, entah yang mana ayahku. Aku bahkan tak pernah tahu, kelam. Lalu siapa yang harus aku salahkan untuk ketidakpahaman ku tentang arti keperawanan untuk seorang wanita suci? Ibuku? Tidak, aku tidak menyalahkannya. Ayahku? Ah bahkan aku tak mengenalnya. Tuhan? Sudahlah, Tuhan sudah cukup baik membiarkan aku hidup sampai sekarang ini. Ada jeda hening yang cukup lama setelah aku berhenti bercerita.
"Mamaaaa.." seorang anak gadis berkuncir kuda menggunakan seragam putih biru masuk ke bar menghampiriku, mencium pipiku dan berjabat tangan dengan pria di sampingku. "Hai Om, makin sehat saja sepertinya.." canda si gadis yang langsung mendapat usapan manja di rambutnya oleh seseorang yang dipanggilnya Om. "Mom, I've told you, kalo mau ketemu si Om kan bisa di rumah aja, why you have to go and be in here sih?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling bar, ngeri. "Sudah di jemput Pak Min, yuk! Nggak mau ketinggalan pertunjukan ballet ku kan, Mom?" tanyanya kembali. "Aku tersenyum, membayar tagihan pesananku, kemudian mematikan puntung rokok di tanganku. "Aku pamit Jeff.." kataku menutup pembicaraan kami kali ini. "Bye Om Jeff.." senyum ceria anak itu tidak pernah padam. "Mom, tau nggak sih, Elena, she's told me, kalo liburan ini dia bakal keliling Eropa. How about us? London?" tanyanya, mencoba mengidekan. "You decide!" jawabku santai. "Ah Mommy, love youuuuuu. Aku tadi di sekolah ..... " aku tak mendengar kelanjutan ceritanya, mata ini terlalu lelah untuk terbuka. "Yah, mama tidur. Pak Min, gedein volume radionya ya!" "Baik, Non" -@fadilamh

Saturday, April 6, 2013

Mantan.


Ada yang harus diangkat ke dunia ada yang tidak. Ah maksudku dunia kita, bukan hanya duniaku saja, begitu. Bukan berbohong atau menipu, hanya saja tidak sepenting itu untuk diangkat, kemudian kamu tahu, lalu bersama membahasnya. Ada banyak hal yang jauh penting untuk bersama kita duduk hadapi dan selesaikan. Kamu masih duduk manis dihadapanku, menatapku dalam, kemudian mengangkat sebelah alismu ke atas, tatapan tak percaya. Ah baiklah! Iya aku menghubungi mantanku kembali dua hari yang lalu. Lalu? Tanyannya santai tak ragu. Hanya saja aku khawatir melihat status-statusnya yang...aku tertunduk, hmm mengkhawatirkan. Sudah tahu keadaannya? Tanyanya lagi. Aku mengangguk. Lalu? Lanjutnya. Lalu dia baik-baik saja, hanya sedang rindu seseorang di masa lampaunya. Kamu? Tebaknya langsung tepat sasaran. Aku mengangguk. Lalu bagaimana denganmu? Aku menatap makan siangku, di piring putih besar berisikan fettucini ekstra keju, sambil mengaduk makananku asal. Aku.. Aku kembali diam. Kamu kembali menegak minuman sodamu. Ah kamu, selalu seperti itu, ucapnya. Senyum sinis menyedihkan kesal terlihat di wajahmu. Aku lelah, ini bukan kali pertama kamu begini kan? Bukan kali pertama pula kita membahas ini. Iya kan? Tanyanya dengan nada tinggi. Aku mengangguk, terus menunduk. Aku minta maaf, ucapku. Dan bukan kali pertama pula kamu mengucapkan maaf. Aku lelah. Aku tidak ingin kehilangan kamu.
Ah mantan, kamu selalu ada menjadi bayang-bayang! Bukan masalah, tidak apa, aku baik-baik saja, karena kamu selalu ada. Iya kan? -@fadilamh

Kepo.


Ketahui apa yang ingin kamu ketahui. Rasanya ingin selalu seperti itu, ya kenyataannya kadang ada beberapa hal yang ingin kita yasudahlah-kan, justru menjadi hal yang kita ketahui. Sengaja maupun tidak disengaja, for real semua orang pernah mengalaminya, kan? Beberapa mengatakan itu 'kepo', pengen tau aja  hahaha but true! Rasa penasaran yang berbuahkan keingin tahuan yang rasanya bisa manis, bisa juga pahit sekali. Ada yang membangkitkan nostalgia, ada yang membangkitkan dilema. Ah kepo. Satu hal yang semua orang lakukan dengan senang hati. Terimakasih untuk media social yang mendukung salah satu kegiatan unik orang-orang yang suka kepo. Well, I just wonder, kalo 30 tahun yang lalu untuk smsan pun masih terasa awam, mereka, terutama yang berjiwa muda, keponya via apa ya? :')
Jadi keinget, ceritanya Bunda 2 minggu lalu, sebelum sama papa sekarang, Bunda pernah juga di sukain orang yang bener suka, sayang, cinta mati. Eh ini sih nggak ada hubungannya sama kepo sih hehe. Well, in the end my mom choose my dad for being her love forever, that's why I'm here, writting this on my phone's notes, ah iya internet kosan lagi nggak kece nih, jadi diketik di sini dulu baru di post nanti via pc. Ngalur ngidul ya ceritanya. Intinya, sekira-kiranya gue, nyokap udah paling tatap langsung cinte sama bokap, eh ternyata masih ada cerita di luar itu. Ah kangen rumah deh. Semenjak kuliah, jauh banget sih ya nggak sama rumah, Bogor-Jakarta, tapi ya tetep pulang ke rumah ya jarang-jarang. Bukan karena sibuk rapat lagi kalo sekarang. Hmm alasannya sih belajar, niatnya pun begitu, tapi apa mau dikata, kasur selalu jauh lebih menarik dibanding yang lain pada saat weekend :') kadang suka mikir, sibuknya gue, sampe jarang pulang kadang sangat amat membuat quality time sama keluarga berkurang deh. Ok intinya, sebenernya kisah cinta dari zaman ke zaman ya tipenya ya kayak gitu, paling inovasinya aja dikit, itupun terletak di wajah orang-orangnya. Tapi ya sedih, ya senengnya, ya setipe deh ya. Cara nyelesaiinnya ya setipe juga. Ah mom, I miss you! Best advicer in my whole life everrrrr (ʃ⌣ƪ)
Back to kepo, tadi abis view message facebook di zamannya saya dan oke someone outside my world now lah ya. Hahaha, labil. Banget! Di atas-atasnya, gue bilang like you're my everything, dibawah-bawahnya, gue bilang maaf tapi seterah kamu, kamu harus tetep ngelepasin aku. Hahaha. Malu  nggak bisa jaga omongan, nggak konsisten. Sedih.
Baca lagi satu message, yang ini sama someone who still there around me, even tough we like never looking around. Hmm, diatasnya dia bilang banyak kata indah. Dibawahnya, dia mulai pergi begitu saja, lari dari masalah, menghindar, ingin dikejar, saya mundur untuk sesuatu yang kembali pada sebuah prinsip kehidupan. Ya kembali labil. Kembali berterimakasih kepada dunia maya yang tidak hanya mempermudah kegiatan kepo, namun juga kegiatan menyimpan memori. Termasuk blog ini *\(^▽^)/* ada banyak kata yang terangkai menjadi satu kenangan tersendiri di setiap postingannya. Masih labil? Iya. Tak apalah, biar berkaca, mengaca pada apa yang ditulis dan dijanjikan. Jangan diulangi lagi apa yang membuatmu jatuh, kembali bangkit dan ukir kembali sejarahmu.

Seseorang bilang, kamu tidak akan pernah mendapatkan hal, cerita, masalah yang kamu inginkan, karena kamu belum pernah bisa memberikan solusi untuk hal yang berulang sama tersebut. -@fadilamh

Friday, April 5, 2013

Fisik dan Materi.

Hari ini kami bertemu kembali layaknya dua sahabat yang saling menyayangi. Galau? Tanyanya santai sambil menghembuskan kepulan asap dihadapanku. Nggak, jawabku tenang. Apa kabar Pak? Lanjutku. Sedikit baik, jawabnya datar, miris. Cerita kali bang. Abang, begitu biasa aku memanggilnya, sejak SMA, entah bagaimana kita bisa sedekat ini, menjadi sahabat, yang bahkan kenal lewat teman-temannya-temannya dia dan saya. Udah dari tanggal 12 lalu, pas kita anniv ke satu tahun dua bulan. Ehiya? Alasannya? Jenuh sepertinya, jawabnya datar. Air mukanya berubah. Wanita ini yang membuatnya tergila-gila atau memang dia saja yang menggila, batinku. Kayak gue doang yang berusaha buat terus berkorban sama hubungan gue sama dia, lanjutnya. Harus postitive thinking atuh abang! Jangan down cuma gara-gara sedih nggak punya pacar. Artinya Tuhan lagi membiarkan lo bebas mencari, menemukan kemudian mengizinkan lo dapet hal baru yang lebih seru dari sekedar pacaran terus patah hati. Udah patah hati jangan berlarut-larut, kayak gue dong, hilang satu, yaudah bukan jodoh berarti, candaku. Tergaris senyum di wajahnya. Iya sih, tapi nggak gini caranya, sakit. Wajahnya berangsur kembali muram.

Kembali mematikan puntung rokok dan membakar batang baru lainnya. Masih kuat aja ngerokoknya bang? Iya, bawaan lahir, candanya. Kalo lo udah ngerasa maksimal memperjuangin hubungan lo dan orang yang diperjuangin ya tetep give up, kesalahan bukan ada di lo lagi bang, timpaku. Percaya deh, nggak segampang itu ngelupain. Tapi ya segampang itu untuk mencoba mengalihkan pikirannya, nyataku. Baru tgl 12 kemarin kan udahannya? Wajar kok masih nyesek. Tapi kan gue cowok. Itupun yang mau sama gue kayaknya katarak kali matanya, nyatanya muram. Tawaku pecah, hahaha iya juga sih bang. Apa semua orang prioritasnya fisik dan materi yah? Tanyanya. Jodoh nggak ngeliat fisik bang. Materi sih mungkin, but for real, masih ada kok yg nggak ngeliat keduanya. All you need is believing. Gue masih susah ngelupain dia, timpanya, menghiraukan perkataanku. Gue kalo udah sayang sama orang gitu salah sih. Langsung jor joran. Apa sih yang nggak gue kasih ke dia, lanjutnya. Tapi emang gue nggak perhitungan, selama ini emang gue dikecewainnya sama mantan gue ya itu alasan fisik sama materi. Hahahaha, tawaku kembali pecah, dia menatapku kesal. Oke gini-gini, pikiran kita juga harus dibagi-bagi lagi, simplenya gini, kalo pas punya pacar, 50 persen pikiran buat dia, 50 persen buat lain-lain. Sekarang, lo nggak harus kudu wajib ngelupain dia kok, pelan-pelan aja, 50 persen yang untuk lain-lain ditingkatin jadi 70 persen misalnya, 30 persennya perlahan-lahan nanti di ganti sama kegiatan lo yang lain, skripsi misalnya. Masalah fisik materi, itu bukan masalahnya lo kok, itu masalah orang yg nggak mau sama lo gara-gara itu. Toh lo nggak kenapa-kenapa kan selama ini, ya sakit hatilah dikit, tapi abis itu? Lo bakal belajar yang namanya menerima. Pasti berhasil asal niat gitu? Ulangnya mencoba menyimpulkan. 100 buat Anda! Kalo ga ngerasain sakit pasti nggak ngerasain bahagia yah? 100 lagi buat Abang! Percakapan kami berakhir ketika melihat jam di restoran cepat saji itu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ah. Fisik dan Materi. -@fadilamh

Saturday, March 30, 2013

Tangis.


Kapan terakhir kali kamu menangis untuk orang asing berwujud pria dalam hidupmu? Menangis yang benar-benar menangis, beberapa tahun yang lalu, sekitar 3 tahun yang lalu, di kamar mandi sekolah ku, ah remaja. Waktu itu kalo tidak salah, aku bersama dua teman ku, satu bertanya kenapa masih menangis untuk orang seperti itu, satu lagi berkata menangis untuk apa, tidak menyelesaikan masalah. Seminggu kemudian setelahnya, salah satu dari mereka berkata, kamu lebih tegar dari sebelumnya ya. Ah, remaja. Tapi benar, itu terakhir kali aku menangis yang benar-benar menangis. Ya sekarang beberapa kali pernah, tapi hanya jika sedang mengenang. Di luar itu, untuk orang asing berwujud pria selain dia, menangis yang benar-benar menangis, belum pernah lagi.
Benar tidak pernah menangis untuk seseorang selain dia? Sebentar, coba ku ingat-ingat. Hmm. Benar, belum pernah lagi. Dia sudah memberikan ku banyak pelajaran untuk menjadi lebih kuat, lebih dari biasanya. Aku pernah merasa suka karena dia, duka pun pernah karena dia. Merasa diduakan, disalahkan, diabaikan, ditinggalkan pun pernah. Jadi untuk hal kecil sepele di bawah level itu, wajar saja aku tidak mempan. Hanya saja lelah bilamana harus berkutat pada hal sama, apa lagi yang menyakitkan.
Bagaimana bila ada orang asing yang bisa membuatmu menangis yang benar-benar menangis dan bukan dia? Ah itu yang aku cari. -@fadilamh

Mimpi.


Semalam aku mimpi kamu lagi. Kamu duduk di salah satu bangku taman di Surapati. Hanya duduk, menatapku dalam. Padahal pagi ini, aku kembali mengunjungimu di ruang Mawar, ah mimpi. Masih sepi, Ayah Bunda mu mungkin belum tiba atau aku yang datang terlalu dini. Kamu masih tertidur tenang, nyenyak sekali, manis. Ini bulan kedua, kamu masih berbaring di sana. Seorang suster masuk ke ruangan, "Permisi, selamat pagi, ini sarapan untuk Pak Indrajaya ya Bu" aku tersenyum, melihat name tag di baju dada kanannya, Ane. "Terima kasih Ane" kemudian Ane meninggalkan ruangan. Aku mulai menyiapkan makanan untukmu. Rasanya sepi sekali, ada rasa takut yang menggumul di dada ingin meluap. Aku lelah, lelah sekali. Tapi kamu masih di sini, entah memberiku nyaman atau beban, aku tidak tahu. Seketika kamu terbangun, menggenggam balik tanganku seolah tahu apa yang ku rasa saat ini, kamu selalu begitu. "Makan ya mas?" tanyaku pelan. Kamu menggeleng. Aku tetap menyuapimu bubur, kamu kemudian tersenyum dan mengikuti mau ku. Kamu memakan sarapan mu bersih sampai habis. Aku senang. Kamu memintaku memutarkan film kesukaan mu, biasanya aku tidak suka menonton bersama mu, karena kamu biasa meninggalkan aku dan seketika tertidur. Tapi sekarang aku mau, karena hari ini kamu manja sekali. Aku duduk di samping kanan mu, di ranjang yang sudah kamu tempati dalam dua bulan ini, aku memeluk mu erat sekali. Dan sekali lagi aku merasa takut. Takut kehilangan. Empat puluh lima menit pertama kamu masih mengajak ku berbicara tentang para pemain film klasik itu. Kamu mulai menghilang di menit ke lima puluh, jam di samping telivisi itu memberi tahu ku. Ah lagi-lagi kamu tertidur, meninggalkan aku. Tangan kiri mu semakin erat memeluk ku selama beberapa detik, kemudian perlahan mulai mengendur. Aku lemas, benar-benar lemas. Kamu mulai pergi, kamu mulai meninggalkan aku di sini, kamu sekarang sedang berjalan ke bangku taman tepat sama seperti yang ada di dalam mimpi ku, bukan? Kamu.. Kamu.. Kamu.. Air mata ku mulai mengalir. Bulir-bulir air mataku jatuh membasahi baju mu. Aku tak berani melepas mu, aku...
Klik. Film di telivisi berakhir. Terdengar langkah seseorang masuk ke ruangan. Ada cahaya yang masuk ke dalam penglihatan ku. Dan kecupan manja di pipiku seketika membangunkan aku. "Selamat pagi sayang" sapa hangat seseorang yang baru saja datang di mimpiku. "Mama" seorang gadis kecil manis dengan pita cantik di kepalanya, mulai kembali menyerang seluruh wajah ku dengan bibirnya, termasuk kamu. -@fadilamh

Tuesday, March 26, 2013

Kopi Pahit.

Tatapan mu masih sama, senyum mu pun masih sama, sapa santai mu pun sama tak lebih dan tak kurang. Tak pernah ada yang berubah, benar-benar berubah maksudku. Kamu ada ya selalu ada di situ, sementara aku mengelana ke duniaku. Kamu ada ya selalu ada setia menunggu. Kamu... Tak benar-benar berubah, tak pernah.

Sampai malam ini, aku menjumpai mu di satu kedai yang sudah lama tak ku kunjungi. Aku terbiasa ke sana denganmu. Dengan tangan saling menggenggam. Hati saling terpaut. Dan bibir yang mengecup lama keningku. Malam ini berbeda, bukan kamu yang mengajak ku ke sana, sahabatku, Dion, yang meminta ku menemaninya, sekaligus benar-benar belajar melupakan kamu. Tapi Dion salah, dia bodoh. Dia tidak memprediksi kehadiran mu di sana. Ah bukan Dion yang bodoh, tapi aku. Malam tadi adalah malam Senin, kamu memang selalu di sana, sejenak mengasapi wajah mu dengan asap rokok dan kopi hitam pahit mendukung suasana santai mu. Ah iya aku bodoh, aku lupa. Malam Senin memang selalu menjadi hari santai mu, karena esok hari kesibukan mulai meghampiri mu satu per satu.
"Criiiing..." lonceng pintu kedai berbunyi. "Hai Mba, sudah lama nggak kelihatan, halo mas Dion!" sapa hangat Anto, pelayan kedai. Bagaimana tidak kenal, hampir setiap minggu aku mampir ke sana, dulu, waktu aku masih denganmu. Ku pandangi seluruh isi kedai seraya berjaga, aku takut akan melihat mu malam ini. "Yuk!" Dion menarik lengan ku pelan. Ah aku benar, firasat ku benar. Kamu ada di situ. Di pojok nyaman mu dengan asap, secangkir kopi hitam dan seseorang yang mendengarkan cerita dan menatap mu dalam.
Aku menggenggam lengan Dion, perlahan menarik mundur dan menghentikan langkahnya. "Gue nggak bisa, belum siap." tegasku seraya berbalik ke arah pintu kedai.
"Criiiiing..." lonceng pintu kedai kembali berbunyi mengantarkan kepergianku. Di satu sisi, kamu berhenti berbicara dengan lawan mu, melihat ke arah pintu tertutup, terdiam, kemudian kembali menyeruput kopi hitam panas mu perlahan, pahit. Dan semakin pahit. -@fadilamh

Saturday, March 16, 2013

Pernah.

Pernah ada seseorang yang menggilai mu dalam? Pernah, pernah ada. Kesabaran dan usahanya luar biasa. Tapi waktu berkata lain. Waktu mendorong jiwanya untuk berhenti. Waktu memojokkan semangatnya untuk kembali. Dan waktu membuatnya terjatuh lagi. Lalu bagaimana? Tapi bukan waktu yang membuatnya bangkit lagi. Namun jiwa dan semangatnya yang mempengaruhi waktu kembali. Dia dan waktu saling berkelahi memperebutkan satu hal yang pasti. Bukan tidak mau berbagi. Tapi waktu ingin menyaksikan kembali bahwa dia tak kan takluk lagi, tak kan terpojok lagi dan tak kan terjatuh lagi. Jadi siapa itu waktu? Waktu itu dia. Kemudian siapa dan dimana dia? Dia itu aku di satu waktu.

Karena hidup penuh perjuangan, tuhan tidak akan pernah lelah memberikan semangat untuk berjuang.- @fadilamh

Saturday, March 9, 2013

Tertidur.

Tertidur sejenak di punggungmu itu adalah kelelahan yang hilang sejenak. Namun tahu kamu memelankan laju motor mu agar aku tidak terjatuh serta menggenggam tangan kiri ku adalah lebih dari itu. -@fadilamh

Friday, March 8, 2013

Lalu

6 tahun kita bersama dan dari sekian lama kebersamaanku dengan mu. Aku pernah mengubah nama panggilan mu di telepon genggamku menjadi nama panggilan yang sama dengan teman-teman mu. Kamu diam. Aku tahu kamu marah. Iya aku tahu aku salah. Kamu memang spesial. -@fadilamh

Sunday, January 27, 2013

Earth Hour Bogor 2013



So, here I am and my new friends from @EHBogor. And what is that? Earth Hour Bogor is one of global activities that do by many youth in the world. And I'm being a part of EH Indonesia for Bogor volunteering, initiating by WWF. So, this is one of my activities in the beginning of 2013. What are you waiting for? I campagne this for asking you to turn off your light for only one hour. March 23, 2013, 08.30-09.30PM by local time! You do? I do.- @fadilamh

Wednesday, January 23, 2013

Akan Selalu Kamu!

"Kamu kapan terakhir kali makan di sini?" tanyanya santai. "Hmm, lupa."
"Ih masa lupa sih? Nggak mungkin pas waktu farewell aku sebelum ke Germany kan?" tanyanya lagi dengan logat yang agak kebarat-baratan. "Eh nggak lah. Hahaha. Masa iya. Itu kan udah lama."
"Hahaha, iya sih masa iya. Eh kamu ke sini waktu itu sama siapa? Gebetan baru kamu ya? Atau jangan-jangan sekarang kamu udah punya pacar yaaaa? Ih ya ampun tuh kan. What kind of friend am I? Sampe lupa nanyain your love life." dia menaruh sendok dan garpunya perlahan, mengambil tisu dan mengelap bibirnya perlahan, anggun. "Kamu nggak berubah ya."
"Kamu tuh yang nggak berubah! Pasti dari dulu setiap ngomongin love life ngelengos ngomongin yang lain deh. Ayo dong, tell me more about that lucky girl!" dia mengedipkan sebelah matanya, kemudian lanjut menyeruput iced coffee di hadapannya. Aku gelagapan, bingung harus bercerita apa, yang mana, dan kacaunya lagi, siapa. "Ada kok, namanya hmm..."
"Siapa? Wait, jangan bilang masih suka sama Talitha ya?" potongnya. "Ah iya, Talitha, iya bener Talitha!"
"Like seriously? Jadi, sekarang lo jadian sama Talitha? Ah akhirnya ya, happy for you, Dim!" dia menjulurkan tangan kanannya menepuk bahuku pelan. "Eh bukan gitu, hmm.."
"Eh aku harus cepet-cepet nih, mau nemenin Bunda belanja, aku masih bakal stay sampe next month kok. Pokoknya harus datengin tempat-tempat yang biasa kita datengin kaya dulu ya! Bye, Dim!" dia berdiri, merapikan dress casual maroon yang dikenakannya, mendekat menghampiri ku dan mencium kedua pipi ku santai. "Iya, Nad. Hati-hati!" Aku hanya tak tahu bagaimana lagi harus mengarang cerita tentang aku, kehidupan ku dan di tambah lagi Talitha yang tak sengaja hadir dalam percakapan kami. Aku hanya entahlah, Nad, maaf, hanya saja, aku tak pernah bisa lupa untuk mengharapkan mu menjadi seorang ibu dari anak-anak ku nanti.

@fadilamh